PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) menggelar Apel Siaga Cegah Karhutla Melawan Super El Nino bersama Darung Bawan di halaman Rumah Betang Bandar, Kecamatan Kahayan Hilir, Rabu, 12 Agustus 2026.

Apel siaga tersebut diikuti tim patroli kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat peduli api (MPA), LPHD, KPH, aparat desa, kecamatan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas sebagsebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau ekstrem. bertindak sebagai Infektur Apel Camat Kahayan Hilir Endra Setiawan.

Field Project Manager KPSHK, Edy Subahani mengatakan, apel siaga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan kesiapan seluruh tim di tingkat desa maupun kecamatan dalam menghadapi potensi karhutla akibat pengaruh Super El Nino.

“Apel ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan memastikan seluruh tim di desa dan kecamatan sudah mempersiapkan diri menghadapi karhutla,” ujarnya.

Ia menjelaskan, KPSHK sebenarnya telah menetapkan status siaga karhutla sejak Mei 2026 berdasarkan pantauan BMKG. Sejak saat itu, berbagai kegiatan pencegahan telah dilakukan, mulai patroli, monitoring hingga pemadaman di sejumlah lokasi rawan.

Menurut Edy, titik kebakaran yang ditangani berada di kawasan hutan produksi maupun areal penggunaan lain (APL), seperti di Kelawa, Gohong, Buntoi dan beberapa titik di pinggir jalan.

“Kegiatan ini bukan hanya fokus di area proyek, tetapi di seluruh desa rawan kebakaran di wilayah Kecamatan Kahayan Hilir,” katanya.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan tim patroli melalui monitoring rutin di lokasi rawan, sosialisasi kepada masyarakat agar berhati-hati saat beraktivitas, serta memperkuat koordinasi lintas pihak.

“Kami terus berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polsek, pemerintah desa dan kecamatan terkait pencegahan, pemadaman dan tindak lanjut penanganan karhutla,” ucapnya.

KPSHK juga melakukan evaluasi harian terhadap setiap kejadian kebakaran untuk menentukan langkah lanjutan yang perlu dilakukan di lapangan.

Terkait upaya pengendalian kebakaran di lahan gambut, Edy menyebut sekat kanal yang dibangun masih berfungsi menahan aliran air dan menjaga kelembapan gambut di beberapa lokasi.

“Masih ada efektivitas sekat kanal di beberapa titik, meskipun ada lokasi yang mulai mengalami kekeringan karena air pasang tidak lagi menjangkau area tersebut,” jelasnya.

Selain sekat kanal, KPSHK memantau tinggi muka air tanah menggunakan alat ukur khusus. Berdasarkan hasil pemantauan, beberapa titik sudah berada di bawah ambang aman 40 sentimeter sehingga perlu mendapat perhatian lebih.

Ia menambahkan, berdasarkan identifikasi KPSHK hingga saat ini belum ditemukan kebakaran di kawasan hutan lindung maupun hutan desa. Kebakaran yang terpantau berada di kawasan hutan produksi dan telah dilakukan pemadaman bersama LPHD, MPA, KPH, kecamatan, Polsek, Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

“Lokasi yang sempat terbakar sudah dilakukan pemadaman dan pembasahan, serta terus dipantau oleh tim di lapangan,” tandasnya. (RETHA/j)