BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam sektor pertanian dan perkebunan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak hanya akibat kerusakan lahan tetapi juga terganggunya keseimbangan ekosistem.
Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, kematian satwa akibat karhutla dapat memengaruhi rantai makanan dan berpotensi meningkatkan hama yang merusak tanaman pertanian maupun perkebunan.
Salah satu satwa yang terdampak adalah ular. Sekitar sepekan hingga 10 hari lalu, ditemukan dua ekor ular mati terpanggang di kawasan Jalan Lingkar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Menurut Muriansyah, dua kasus tersebut baru yang diketahui karena sempat didokumentasikan. Ia menduga masih banyak ular yang mati akibat kebakaran, terutama yang bersarang di dalam tanah.
"Kalau ular tidak bisa bergerak secepat orangutan atau beruang. Banyak yang bersarang di dalam tanah sehingga saat api membakar lahan, kemungkinan mereka mati di dalam sarang dan tidak sempat keluar," katanya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Berkurangnya populasi ular, lanjut Muriansyah, dapat memicu peningkatan jumlah tikus yang merupakan salah satu mangsa alami ular. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerusakan tanaman di lahan pertanian dan perkebunan.
"Kondisi ini tentu berdampak terhadap pertanian karena tikus akan semakin banyak merusak tanaman, termasuk di perkebunan kelapa sawit," ujarnya.
Dampak karhutla terhadap sektor pertanian dan perkebunan tidak hanya berasal dari kematian satwa. Muriansyah mengatakan, asap kebakaran juga dapat membunuh serangga penyerbuk yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan buah.
Menurutnya, penyerbukan tanaman tidak hanya mengandalkan angin. Proses tersebut lebih dominan dibantu serangga kecil. Ketika serangga penyerbuk mati akibat paparan asap, produksi buah berbagai jenis tanaman dapat ikut menurun.
Ia menyebut berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pihak perkebunan kelapa sawit, produksi buah sawit dapat menurun hingga 50-70 persen setelah terjadi kebakaran besar.
"Yang lebih dikhawatirkan sebenarnya bukan hanya apinya, tetapi asapnya. Asap membunuh serangga penyerbuk sehingga hasil buah ikut berkurang," ucapnya.
Dampak tersebut tidak hanya berpotensi terjadi pada kelapa sawit. Tanaman buah seperti nangka, buah naga, jambu kristal hingga berbagai buah hutan juga dapat terdampak karena proses penyerbukannya sangat bergantung pada serangga.
Menurutnya, pemulihan populasi serangga penyerbuk membutuhkan waktu cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dampak terhadap produksi buah bahkan dapat berlangsung hingga sekitar dua tahun.
Muriansyah mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan meskipun dalam skala kecil. Terlebih, wilayah Kotim memiliki kawasan gambut yang membuat api dapat bertahan dan merambat di bawah permukaan.
Ia menjelaskan, api yang terlihat sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati. Asap yang masih muncul menjadi salah satu tanda bahwa api masih membara di bawah tanah.
"Kadang warga mengira hanya membakar sedikit lalu disiram air dan ditinggalkan. Padahal selama masih ada asap berarti masih ada api di bawah permukaan gambut. Api bisa terus menjalar dan akhirnya sulit dipadamkan," katanya.
Berdasarkan pengalamannya saat pernah bertugas di Manggala Agni, Muriansyah mengatakan kebakaran besar sering kali bermula dari pembakaran kecil saat masyarakat membersihkan lahan. Api kemudian dapat merambat melalui lapisan gambut di bawah permukaan hingga meluas ke area lain.
Karena itu, ia kembali meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembakaran lahan untuk mencegah karhutla semakin meluas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan, pertanian serta perkebunan. (DEWI PATMALASARI/y)









