BORNEONEWS, Palangka Raya – Tingginya angka pengangguran di Kota Palangka Raya menjadi perhatian serius DPRD. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah pengangguran di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut mencapai sekitar 8.175 orang, dengan sebagian di antaranya merupakan lulusan baru atau fresh graduate.
Anggota Komisi III DPRD Palangka Raya, Jati Asmoro, menilai persoalan pengangguran perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, meningkatnya angka pencari kerja tidak hanya berasal dari penduduk asli Palangka Raya yang belum memperoleh pekerjaan.
“Persoalan pengangguran ini tidak hanya disebabkan penduduk asli Palangka Raya yang belum mendapatkan pekerjaan. Kita juga harus melihat adanya pencari kerja dari luar daerah yang datang dan bersaing mendapatkan pekerjaan di Palangka Raya,” ujar Jati, Rabu 12 Agustus 2026.
Menurutnya, sebagai ibu kota provinsi, Palangka Raya memiliki daya tarik bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari pekerjaan. Kondisi tersebut secara tidak langsung membuat persaingan di pasar kerja semakin ketat.
Jati mengatakan pemerintah daerah perlu memiliki strategi yang lebih konkret dalam menghadapi kondisi tersebut, terutama dengan memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal.
Pelatihan kerja, sertifikasi keterampilan, pengembangan kewirausahaan, hingga keterhubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri dinilai perlu diperkuat agar lulusan baru tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan formal.
“Jangan sampai lulusan kita selesai sekolah atau kuliah tetapi tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah membuka lebih banyak ruang bagi sektor usaha dan UMKM untuk berkembang karena pertumbuhan dunia usaha berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Menurut Jati, penanganan pengangguran tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah sebagai penyedia lapangan kerja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat agar pencari kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Yang perlu kita dorong adalah bagaimana masyarakat Palangka Raya memiliki daya saing dan keterampilan sehingga mampu bersaing secara sehat di pasar kerja,” pungkasnya. (MARINI/y)









