BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemadaman listrik bergilir di Kota Palangka Raya masih menjadi perhatian DPRD. Selain berdampak terhadap rumah tangga dan pelaku usaha, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu operasional fasilitas yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat, seperti SPBU dan traffic light.
Anggota DPRD Palangka Raya, Mukarramah, meminta PT PLN memberikan perhatian khusus terhadap jalur listrik yang memasok SPBU dan sejumlah fasilitas publik tersebut.
Menurutnya, SPBU memiliki keterbatasan dalam mengandalkan genset sebagai sumber listrik cadangan. Rata-rata genset yang digunakan hanya mampu menopang operasional sekitar 3 hingga 4 jam.
“Kami berharap PLN memberikan perhatian khusus terhadap jalur-jalur yang terdapat SPBU agar durasi pemadaman tidak terlalu panjang,” ujar Mukarramah, Kamis 13 Agustus 2026.
Ia menilai, apabila pemadaman berlangsung lebih lama dari kemampuan genset, operasional SPBU dapat terganggu. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengelola, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan.
Selain SPBU, Mukarramah meminta PLN memperhatikan pasokan listrik untuk traffic light. Pemadaman pada fasilitas tersebut berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama di persimpangan yang memiliki volume kendaraan tinggi.
Menurutnya, PLN perlu melakukan pemetaan terhadap fasilitas-fasilitas vital sehingga penanganan pemadaman dapat dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan layanan publik.
“Jangan sampai pemadaman justru berlangsung lama di jalur yang memiliki fasilitas penting bagi masyarakat. SPBU dan traffic light harus menjadi perhatian karena berkaitan dengan aktivitas dan keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Mukarramah berharap kondisi kelistrikan segera kembali normal sesuai target PLN, sehingga masyarakat maupun pelaku usaha tidak terus-menerus menghadapi dampak pemadaman bergilir. (MARINI/H)









