PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Lahan gambut dalam serta keterbatasan sumber air tidak menyurutkan langkah tim pemadam kebakaran hutan dan lahan saat menangani kembali titik api di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau.

Kebakaran berada di kawasan Jalan Trans Kalimantan Palangka Raya - Banjarmasin Km 32, lokasi yang sebelumnya juga pernah terbakar, sehingga tim segera bergerak mencegah api kembali menjalar.

Kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Vegetasi berupa semak belukar, akasia, geronggang, blangiran, hingga pakis-pakisan membuat api mudah merambat dengan cepat.

Ditambah lagi lokasi merupakan kawasan gambut dalam, yang memerlukan penanganan lebih hati-hati karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul sewaktu-waktu.

Penanganan dilakukan oleh personel Dalkarhutla Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, tim pemadaman darat, Brimob, Masyarakat Peduli Api (MPA) Jumpun Pambelum, serta didukung kru water bombing BNPB.

Upaya tidak hanya menyasar kobaran api yang terlihat, melainkan juga dilakukan pembatasan penjalaran ke area sekitar, dilanjutkan penyemprotan dan pendinginan menyeluruh. Hingga sekitar 0,31 hektare area berhasil dipadamkan.

"Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan sumber air," ungkap Kadishut Kalteng Agustan Saining, Kamis, 13 Agustus 2026.

Tim mengandalkan sumur bor milik warga yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi untuk memenuhi kebutuhan pemadaman.

Kondisi tersebut menuntut petugas bekerja lebih efektif setiap tetes air digunakan secara tepat sasaran, diikuti pendinginan teliti agar api tidak bangkit kembali.

Agustan menjelaskan penanganan di kawasan gambut menuntut kecepatan sekaligus ketelitian tinggi.

“Api yang terlihat kecil di permukaan bisa kembali muncul apabila bagian bawah gambut belum benar-benar dingin,” ujarnya.

Penanganan ini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran untuk respons cepat di titik rawan.

Oleh karena itu, tim tidak berhenti saat api tampak padam. Pemantauan dan pendinginan berlanjut secara berkelanjutan.

"Fokus utama saat ini bukan sekadar memadamkan yang terlihat, melainkan memastikan lapisan gambut di bawahnya benar-benar dingin sehingga bara tersembunyi tidak kembali menyala," pungkasnya. (PATHUR/j)