KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Persoalan toleransi, penggunaan media sosial, penyebaran hoaks hingga bullying menjadi sejumlah isu yang dibahas dalam Dialog Kerukunan Umat Beragama dan Kebangsaan di SMK GKE Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kamis, 13 Agustus 2026.

Dialog tersebut mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta elemen masyarakat lainnya. Hadir antara lain Kepala KUA Kapuas Barat Herry Muliadi, Camat Kapuas Barat, Kapolsek Kapuas Barat, Danramil, Tim FKUB Kabupaten Kapuas, Lurah Mandomai dan para kepala desa se-Kecamatan Kapuas Barat.

Pembahasan menyoroti pentingnya menanamkan nilai toleransi sejak dini, terutama kepada anak dan remaja. Sikap menghargai perbedaan agama, suku dan budaya dinilai penting untuk mencegah munculnya konflik maupun sikap intoleran di tengah masyarakat yang beragam.

Selain itu, peserta juga membahas penggunaan media sosial secara bijak. Penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian dan konten yang dapat memicu perpecahan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi hubungan sosial, termasuk di kalangan generasi muda.

Kepala KUA Kapuas Barat Herry Muliadi mengatakan kerukunan tidak berarti menghilangkan perbedaan yang ada di masyarakat. Menurut dia, perbedaan harus disikapi dengan saling menghormati dan menjaga hubungan antarwarga. 

“Kerukunan tidak berarti harus sama. Kerukunan adalah ketika kita mampu menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan bersama-sama merawat kedamaian,” ujarnya.

Pembahasan mengenai bullying juga menjadi perhatian karena perundungan dapat terjadi di lingkungan anak dan remaja, termasuk melalui media sosial. Melalui dialog tersebut, para pihak mendorong penguatan komunikasi antara pemerintah, aparat, tokoh agama, sekolah, pemuda dan masyarakat agar persoalan toleransi, perundungan, hoaks serta ujaran kebencian dapat dicegah sejak dini. (SABRIANOOR/y)