SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas perkebunan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, sekitar 20 hektare kebun kelapa sawit milik warga terdampak kebakaran.

Dampak kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman, tetapi juga berpotensi mengurangi hasil kebun warga. Tanaman sawit yang terdampak memiliki usia beragam, mulai dari tanaman muda hingga kebun yang sudah memasuki masa produktif.

"Yang sudah dipastikan terdampak sekitar 20 hektare. Kebanyakan kebun sawit milik warga. Ada yang baru berumur sekitar dua tahun, ada juga yang sudah tiga tahun dan sudah memasuki masa produktif," ujar Kepala Desa Bagendang Tengah Untung Sukardi, Jumat, 14 Agustus 2026.

Kondisi tanaman setelah terbakar sangat bergantung pada usia dan tingkat kerusakannya. Sawit yang masih muda memiliki risiko lebih besar untuk mati, sedangkan tanaman yang lebih tua masih berpeluang bertahan meski pertumbuhannya dapat terganggu.

"Kalau sawit yang baru ditanam mungkin bisa mati. Kalau yang sudah produksi mungkin tidak mati, tetapi pertumbuhannya terhambat, tidak subur dan lambat pemulihannya," katanya.

Kerusakan tanaman tersebut berpotensi memengaruhi pendapatan masyarakat dari sektor perkebunan. Tanaman yang terbakar dapat kehilangan kemampuan berproduksi sehingga sebagian warga berisiko kehilangan hasil panen.

Namun pemerintah desa hingga kini belum menghitung secara keseluruhan nilai kerugian yang dialami pemilik kebun. Pendataan terhadap lahan dan tanaman yang terdampak masih dilakukan.

Di tengah pendataan tersebut, ancaman kebakaran juga belum sepenuhnya berakhir. Untung menyebut masih terdapat titik api yang aktif di kawasan perkebunan.

"Masih hidup, apinya masih hidup. Kami sekarang menjaga yang belum terbakar, termasuk kebun desa dan kebun masyarakat," ungkapnya.

Kondisi angin yang cukup kencang menjadi perhatian pemerintah desa dan masyarakat karena dapat mempercepat penyebaran api dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Untuk mencegah kerusakan meluas, masyarakat diminta meningkatkan pengawasan terhadap lahan masing-masing, terutama kawasan yang telah dipetakan sebagai wilayah rawan kebakaran.

Untung mengatakan pengalaman menghadapi kebakaran pada musim kemarau sebelumnya menjadi dasar bagi pemerintah desa dalam menentukan kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih.

"Kalau musim kemarau sudah berlangsung dua sampai tiga bulan, kebun itu biasanya ada saja yang terbakar. Karena itu, kita sudah tahu pemetaannya. Tinggal bagaimana masing-masing pemilik kebun menjaga lahannya agar tidak terbakar," tegasnya.

Pemerintah desa berharap pemilik kebun tidak hanya melakukan pemantauan ketika api sudah muncul, tetapi meningkatkan kewaspadaan sejak kondisi lahan mulai kering.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah karhutla kembali meluas dan menambah kerugian masyarakat. (DEWI PATMALASARI/R)