BORNEONEWS, Sampit – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menghasilkan hujan di wilayah yang membutuhkan. Selain potensi awan hujan, arah dan kecepatan angin menjadi faktor yang menentukan keberhasilan penyemaian garam.
"OMC sendiri itu tidak menutup kemungkinan ada kegagalan apa yang kita inginkan di lokasi itu karena mengacu dengan kecepatan angin, arah angin. Tetapi potensi hujannya ada," kata Wakil Komandan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satkorlak Karhutla) Kabupaten Kotim Rihel, Jumat, 14 Agustus 2026.
Ia mengatakan, OMC di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) masih dilakukan untuk membantu mengurangi kondisi kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan rapat melalui Zoom bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, terdapat potensi awan hujan hingga 17 Agustus 2026 di Kalteng dan saat ini telah dilakukan melalui penyemaian garam menggunakan pesawat udara.
Ia menjelaskan, penyemaian garam dilakukan dengan menyesuaikan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Dalam satu kali penerbangan, garam yang disemai rata-rata mencapai 1.000 kilogram atau satu ton.
Beberapa hasil OMC disebut telah menghasilkan hujan di sejumlah wilayah Kotim. Salah satunya terjadi di Kecamatan Cempaga Hulu.
"Beberapa hari ini juga ada hujan juga yang ada di daerah Cempaga Hulu, itu adalah hasil dari OMC," ujarnya.
Namun, hujan hasil modifikasi cuaca tersebut belum merata di seluruh wilayah Kotim. Di wilayah pedalaman seperti Telaga Antang juga sempat dilaporkan terjadi hujan, tetapi durasinya relatif singkat.
Rihel menegaskan, keberadaan awan hujan belum otomatis menjamin hujan turun di lokasi yang diharapkan. Arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting karena dapat membawa awan hujan menjauh dari wilayah sasaran.
"Walaupun potensi hujannya banyak, awan hujannya banyak, tetapi arah angin nanti yang akan menentukan, arah angin dan kecepatan. Jadi apa yang kita harapkan hujan di kota, belum tentu masuk di kota," jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan OMC di Kotim. Penyemaian garam harus dilakukan ketika terdapat awan yang memiliki potensi menurunkan hujan, sehingga waktu dan lokasi penyemaian harus disesuaikan dengan kondisi atmosfer.
Rihel mencontohkan, penyemaian juga dilakukan di wilayah selatan Kotim, tepatnya kawasan Ujung Pandaran. Sebelum penyemaian, dilakukan patroli udara untuk memantau titik kebakaran sekaligus mencari keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Kalau memang patrolinya sore, maka dilakukan paginya dilakukan modifikasi cuaca untuk penyemaian garam," katanya.
Menurut Rihel, selain pemadaman karhutla, OMC menjadi salah satu upaya untuk mengurangi tingkat kekeringan yang saat ini dirasakan di sejumlah wilayah Kotim. Hujan yang turun meski tidak merata tetap dinilai membantu menjaga kondisi lahan agar tidak terlalu kering.
"OMC salah satu juga untuk mengurangi kekeringan. Dengan adanya kering tadi kalau ada hujan lumayan, tidak sampai kondisi kering sekali," imbuhnya.
Ia menggambarkan kondisi kekeringan di wilayah Sampit yang cukup kuat. Sejumlah sumber air dan parit mulai kosong, sementara kedalaman air dari permukaan tanah disebut mencapai lebih dari satu meter.
"Kalau kita lihat di lapangan di tempat kita Sampit pada umumnya, sumber air kita rata-rata kan kosong, apalagi parit," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









