SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) berencana menggelar salat Istisqa sebagai ikhtiar meminta turunnya hujan di tengah musim kemarau yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kami sudah berunding kemarin, mudah-mudahan dilakukan kalau memang ada kesempatan dan waktunya mungkin malam Minggu kalau tidak salah rencananya. Nanti kita tunggu. Jadi mudah-mudahan dengan salat Istisqa itu hujan bisa turun di wilayah kita," kata Wakil Komandan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satkorlak Karhutla) Kabupaten Kotim Rihel, Jumat, 14 Agustus 2026.

Salat Istisqa merupakan salah satu ikhtiar yang dilakukan ketika masyarakat menghadapi kondisi kekeringan dan berharap hujan segera turun.

Rencana tersebut dilakukan di tengah kondisi Kotim yang masih menghadapi musim kemarau. Kekeringan juga menjadi salah satu faktor yang menyulitkan penanganan karhutla di sejumlah wilayah.

Dalam kondisi tersebut, titik panas atau hotspot juga sempat terpantau dalam jumlah tinggi. Dalam sehari, hotspot di wilayah Kotim bahkan dapat sempat mencapai sekitar 200 titik.

Karhutla juga terjadi hampir di seluruh kecamatan. Upaya penanganan terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai unsur, termasuk dengan dukungan helikopter pengebom air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Rihel menjelaskan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Kotim diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.

"Berdasarkan prakiraan BMKG musim kemarau itu sampai dengan bulan September itu adalah puncaknya untuk kemarau," jelasnya.

Menurut Rihel, hingga saat ini belum ada informasi terbaru mengenai perubahan waktu puncak musim kemarau tersebut. Prakiraan masih menunjukkan periode kemarau hingga September.

Ia menambahkan, prakiraan tersebut nantinya dapat diperbarui kembali oleh BMKG. Pemerintah masih menunggu informasi terbaru yang kemungkinan dirilis pada September.

"Nanti mungkin di September minggu kedua atau minggu kesatu nanti ada dirilis ulang lagi, apakah puncak kemarau maju ataukah akan mundur kembali. Sampai dengan saat ini belum ada informasi bahwa itu maju atau mundur," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)