BORNEONEWS, Sampit – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terutama pada pagi hari. Kondisi tersebut dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan yang berada di sekitar Sampit.
Wakil Komandan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satkorlak Karhutla) Kabupaten Kotim Rihel mengatakan jarak pandang pada pagi hari dapat menurun akibat kabut asap. Jarak pandang bahkan hanya sekitar 700 meter ke arah kiri dan kanan.
"Kalau untuk kabut asap, kalau pagi itu pasti tinggi, bisa agak kabut. Karena kalau pagi tadi saya berangkat jam 07.00 pagi, itu radiusnya sekitar 700-an meter, kiri kanan 700 meter," kata Rihel, Jumat, 14 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan dari rooftop Hotel Aquarius Sampit, asap yang masuk ke wilayah perkotaan berasal dari beberapa titik kebakaran di wilayah selatan.
Salah satunya berasal dari kawasan Jalan MT Haryono dan bagian belakang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang asapnya terpantau berasal dari Desa Eka Bahurui. Selain itu, kawasan Lampuyang juga menjadi salah satu sumber asap karena terdapat kebakaran lahan dengan luasan yang cukup besar.
"Di satu sisi, di sana juga tidak ada sumber air. Makanya dilakukan water bombing, termasuk yang juga di wilayah Begendang," ujarnya.
Rihel menyebut, wilayah Bagendang juga menjadi salah satu penyumbang asap ke Sampit. Sebelumnya, tercatat sekitar 40 titik api berada di kawasan tersebut.
Kondisi angin membuat asap dari wilayah tersebut bergerak menuju Kota Sampit sehingga kualitas udara dan jarak pandang pada waktu tertentu ikut terdampak.
Sementara itu, kebakaran juga terjadi di kawasan Bumi Raya dan kilometer 26. Menurut Rihel, api di sejumlah titik tersebut cukup besar dan telah dilakukan upaya pemadaman.
"Kalau yang di depan sana nanti ke arah utara jatuhnya posisi itu adalah di Bumi Raya, kemarin juga besar. Nah, kemudian di kilometer 26 itu juga ada api besar. Itu sudah dilakukan juga pemadaman," jelasnya.
Selain menyebabkan kabut asap, karhutla di sejumlah wilayah Kotim juga menghadapi kendala serius berupa keterbatasan sumber air.
Rihel mengatakan kondisi tersebut juga dirasakan saat tim melakukan penanganan kebakaran di kawasan Camba. Tim telah turun ke lokasi untuk melakukan pemadaman, bahkan Wakil Bupati Kotim Irawati ikut turun ke lapangan. Namun, pemadaman tidak mudah dilakukan karena sumber air berada cukup jauh dari titik api.
"Memang kendala itu juga sama adalah suplai air memang kekurangan, dengan jarak sumber air juga kadang-kadang jauh," katanya.
Kondisi serupa ditemukan di kawasan Batuah-Terantang yang berada di sekitar RMU. Akses menuju titik api serta jarak sumber air menjadi tantangan bagi petugas dalam melakukan pemadaman.
Untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses, salah satu opsi yang digunakan adalah mengerahkan unit roda dua dan mesin apung dengan dukungan selang yang panjang.
"Selangnya harus panjang karena jarak sumber air dengan lokasi titik api yang dipadamkan sangat jauh," ungkap Rihel.
Menghadapi kondisi sumber air yang terbatas, dirimya juga mempertimbangkan pembuatan embung sementara di sekitar kawasan yang rawan terbakar. Skema tersebut dapat dilakukan dengan membuat embung pada jarak tertentu dari titik kebakaran, kemudian air dipompa kembali menuju lokasi pemadaman.
"Atau nanti skenarionya bikin embung, misalnya 500 meter, 500 meter bikin embung baru pompa lagi," jelasnya.
Menurut Rihel, skenario tersebut membutuhkan beberapa unit pompa agar pasokan air dapat terus dialirkan menuju lokasi kebakaran. "Paling tidak, kita menggunakan unitnya, mesinnya, pompanya tiga sampai empat supaya imbang. Selang harus panjang dan harus banyak," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









