JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama musim kemarau, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat debu, polusi maupun asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan perubahan kondisi lingkungan dan iklim dapat memengaruhi risiko gangguan pernapasan.

“Kasus ISPA setiap tahunnya semakin meningkat dan terjadi sepanjang tahun, dimulai dari peralihan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” ujar Aji dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurutnya, masyarakat cenderung lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ketika terjadi perubahan lingkungan yang ekstrem.

Hubungan musim kemarau dengan meningkatnya risiko ISPA salah satunya dipengaruhi penurunan kualitas udara.

Karhutla yang lebih mudah terjadi pada kondisi kering dapat menghasilkan berbagai polutan dan memperburuk kualitas udara.

“Salah satu polutan yang menjadi indikator kualitas udara adalah PM2,5. Apabila kualitas udara menurun maka angka kejadian ISPA meningkat,” tuturnya.

Aji menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko ISPA.

Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika tingkat polusi udara tinggi, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta menghindari sumber polusi dan asap rokok.

Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk.

“Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, tempat umum saat polusi udara tinggi, menggunakan penjernih udara dalam ruangan,” imbuh Aji.

Selain gangguan pernapasan, cuaca panas dan kondisi udara yang kering juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta diminta lebih berhati-hati.

“Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang punya penyakit penyerta, harus lebih berhati-hati. Kita ingin pelayanan kesehatan tetap siap sebelum terjadi peningkatan kasus, bukan baru bertindak setelah rumah sakit penuh,” ujarnya.

Kemenkes telah menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit vertikal, untuk menangani kondisi kegawatdaruratan akibat cuaca panas maupun kualitas udara buruk.

Kesiapan tersebut mencakup penanganan heat stroke, gangguan pernapasan serta memburuknya penyakit kronis yang dapat dipicu cuaca panas.

Tenaga kesehatan dan fasilitas pendukung juga dipersiapkan apabila terjadi peningkatan kebutuhan pelayanan.

Aji mengatakan tren kasus ISPA tahun ini masih mengikuti pola tahunan dan dalam tiga minggu terakhir cenderung mengalami penurunan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus ISPA yang dilaporkan hingga Agustus 2025 mencapai sekitar 15,4 juta kasus.

Pada periode yang sama tahun 2026, jumlahnya tercatat sekitar 15,6 juta kasus.

Aji mengatakan provinsi di Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling banyak melaporkan kasus ISPA.

Menurutnya, tingginya laporan tersebut antara lain berkaitan dengan jumlah penduduk yang lebih besar dibanding sejumlah provinsi terdampak karhutla.

Kemenkes mengingatkan tingginya kasus ISPA tidak dapat langsung disimpulkan sebagai dampak kemarau panjang.

“Tetapi kita perlu hati-hati, karena tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang. Jadi kita terus pantau trennya dan distribusinya,” kata Aji.

Data Kementerian Kesehatan juga mencatat sebanyak 676.404 kunjungan pasien ISPA di rumah sakit sepanjang Januari hingga Juli 2026.

“Total kunjungan pasien ISPA di RS bulan Januari-Juli 2026 sebanyak 676.404. Rerata perubahan kunjungan pasien ISPA pada bulan Januari-Juli 2026 mengalami penurunan sebesar 0,6 persen,” kata Aji.

ANTARA