BORNEONEWS, Pontianak – Musim kemarau mulai berdampak terhadap produksi sejumlah komoditas sayuran di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Keterbatasan pasokan air membuat hasil produksi berkurang dan mendorong kenaikan harga beberapa jenis sayuran di pasar tradisional.
Salah seorang pedagang sayur di Pontianak, Alex mengatakan, berkurangnya ketersediaan air mulai dirasakan pada sejumlah komoditas hortikultura, terutama tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup selama masa pertumbuhan.
“Kondisi tersebut terutama dirasakan pada wortel, timun dan sejumlah sayuran buah yang membutuhkan pasokan air cukup untuk menunjang produksi,” kata Alex, Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, kenaikan harga paling terasa pada mentimun dan sejumlah jenis sayuran buah. Produksi petani yang menurun akibat minimnya pasokan air membuat jumlah barang yang masuk ke pasar ikut berkurang.
“Untuk timun dan sayur-sayuran buah lumayan naik. Harganya naik karena produksi berkurang. Karena tidak ada air, produksinya menjadi lebih sedikit,” ujarnya.
Sejumlah komoditas sayuran lainnya juga mengalami kenaikan harga sekitar Rp2.000 akibat berkurangnya pasokan.
Salah satu komoditas yang sebelumnya dijual sekitar Rp20.000 per kantong besar, kini mengalami kenaikan hingga sekitar Rp25.000.
Meski demikian, kenaikan belum terjadi pada seluruh jenis sayuran. Beberapa komoditas masih dijual dengan harga relatif stabil karena pasokannya dinilai masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
Untuk komoditas cabai, harga di pasar Pontianak masih bervariasi tergantung daerah asal pasokan.
Cabai yang didatangkan dari Pulau Jawa berada di kisaran Rp70.000 per kilogram. Sementara cabai yang dipasok dari Sambas dijual sekitar Rp50.000 per kilogram.
“Kalau cabai rawit lokal sekitar Rp70.000 per kilogram. Sementara cabai lokal yang kita pasok dari Sambas sekitar Rp50.000 per kilogram,” kata Alex.
Sementara itu, harga cabai keriting yang sebelumnya sempat berada pada level tinggi mulai mengalami penurunan.
Pasokan cabai keriting berasal dari sejumlah daerah, baik wilayah di Kalimantan Barat maupun dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa.
Beragamnya sumber pasokan tersebut membantu menjaga ketersediaan komoditas di pasar Pontianak di tengah mulai menurunnya produksi lokal akibat musim kemarau.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus melakukan upaya menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi daerah.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan mengatakan, operasi pasar dan gerakan pangan murah rutin dilakukan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
“Dalam rangka pengendalian inflasi daerah, kita selalu melaksanakan operasi pasar dan melakukan gerakan pangan murah secara rutin untuk masyarakat,” ujarnya.
Gerakan pangan murah menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengantisipasi tekanan harga bahan pangan akibat perubahan produksi maupun pasokan selama musim kemarau.
ANTARA









