BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS terus mengembangkan strategi keberlanjutan yang terintegrasi sebagai bagian dari upaya menuju target net zero. Strategi tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi dari kegiatan operasional, tetapi juga mencakup pengelolaan limbah, efisiensi energi, praktik pertanian, perlindungan kawasan konservasi hingga pelestarian habitat orangutan.
Chief Sustainability Officer, PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo mengatakan pencapaian target net zero membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Setiap aspek operasional harus memiliki strategi mitigasi yang terukur dan saling terhubung.
"Kalau berbicara mengenai net zero, pendekatannya harus terintegrasi. Kami melihat dari sektor limbah, energi, pertanian sampai kehutanan. Masing-masing memiliki strategi mitigasi, tetapi semuanya harus menjadi satu kesatuan dalam strategi keberlanjutan perusahaan," ujar Henky kepada Borneonews pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Berdasarkan materi perusahaan, strategi mitigasi pada sektor limbah dilakukan melalui pemanfaatan biogas dari Palm Oil Mill Effluent atau POME. Sementara pada sektor energi, perusahaan melakukan penangkapan metana yang berasal dari POME. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi yang dihasilkan dari aktivitas pengolahan kelapa sawit.
Pada sektor pertanian, SSMS mengembangkan strategi pengurangan emisi gas rumah kaca melalui substitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik. Sementara pada sektor kehutanan, perusahaan melakukan perlindungan terhadap kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV), termasuk perlindungan habitat orangutan di Pulau Salat.
Henky mengatakan, upaya mengurangi emisi harus berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Menurutnya, kawasan hutan dan habitat alami memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung agenda keberlanjutan perusahaan.
"Jadi, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi. Perlindungan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati juga menjadi bagian penting dari strategi kami," katanya.
Komitmen tersebut kemudian diperluas melalui program Social Forestry atau perhutanan sosial dengan melibatkan masyarakat. Dalam materi perusahaan tercatat lima kolaborasi dengan kelompok masyarakat, yakni HKm Komunitas Karya Masoraian, HD Petak Puti, HKm Danau Seluluk Jaya, HKm Tani Sejati, dan HKm Mawar Bersemi.
Menurut Henky, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program berbasis lingkungan. Karena itu, perusahaan berupaya membangun kolaborasi yang menghubungkan aspek konservasi, pemberdayaan masyarakat dan tata kelola perkebunan.
"Program keberlanjutan tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan berlangsung dalam jangka panjang," ujarnya. (TESTI PRISCILLA/J)









