PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Di tengah pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan yang belakangan menyelimuti Kota Palangka Raya, dua sosok berusia tak lagi muda masih terlihat berdiri di garis depan penanganan.

Mereka adalah Ujang dan H. Sopian di lingkungan tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah lebih akrab disapa Kai Ujang dan Pa Yan.

Bagi Kai Ujang, medan karhutla bukanlah hal yang asing. Pria kelahiran Jawa Barat ini telah bergabung dalam kegiatan pengendalian karhutla sejak tahun 2011.

Lebih dari satu dekade bersentuhan langsung dengan kebakaran membuatnya sangat paham dengan panas yang menyengat, asap yang membatasi pandangan, medan berlumpur, hingga arah kobaran api yang sewaktu-waktu dapat berubah arah secara tiba-tiba.

Pengalaman panjang itu mengajarkan Kai Ujang bahwa memadamkan karhutla bukan sekadar membawa selang dan menyemprotkan air. Ada kondisi medan, arah angin, serta karakteristik api dan jenis tanah yang harus diperhitungkan dengan cermat sebelum mengambil setiap langkah di lapangan.

Di sisi lain, H. Sopian atau Pak Yan, warga asli Palangka Raya, juga memiliki pengalaman bertahun-tahun menghadapi situasi yang tak selalu mudah diprediksi.

Usia memang tidak lagi muda. Namun setiap kali panggilan tugas datang dan tim bergerak menuju titik api, keduanya tidak pernah memilih untuk berdiri di belakang.

Mereka tetap turun ke lokasi bersama personel lain memegang selang, berjalan di antara semak belukar dan gambut terbakar, menembus kepulan asap demi memastikan api dapat dikendalikan dan tidak kembali menjalar.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, menilai dedikasi personel lapangan seperti Kai Ujang dan H. Sopian memiliki peran yang sangat penting.

"Pengalaman yang mereka miliki menjadi kekuatan berharga membantu tim tetap tenang, tepat mengambil keputusan, dan lebih waspada terhadap potensi bahaya di lapangan," katanya, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Mereka mungkin jarang tampil di depan kamera dan tidak banyak berbicara. Namun di bawah langit Palangka Raya yang tertutup asap, semangat mereka menjadi pengingat perjuangan melawan karhutla bukan hanya soal alat canggih atau teknologi.

"Ada manusia yang berdiri di garis depan dengan pengalaman, keberanian, dan rasa tanggung jawab panggilan tugas yang tak mengenal batas usia," pungkasnya. (PATHUR/J)