BORNEONEWS, Istanbul – Pemerintah Iran menolak keras pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Selat Hormuz dan menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk terhadap tekanan maupun unjuk kekuatan militer Washington.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan, Selat Hormuz tidak dapat diambil alih hanya melalui pernyataan politik, pengerahan kapal induk maupun perintah sepihak.
Pernyataan tersebut disampaikan Gharibabadi setelah Trump menyebut dirinya berniat mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat apabila Iran berhasil dikalahkan. Pernyataan Trump pada Jumat, 14 Agustus 2026 juga diberitakan sejumlah media internasional.
“Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan, kapal induk, perintah, ataupun pidato kampanye pemilu,” kata Gharibabadi melalui platform X, sebagaimana dilaporkan Anadolu, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia juga menegaskan Iran tidak takut terhadap ancaman ataupun pengerahan kekuatan militer.
“Iran tidak takut terhadap ancaman dan tidak dapat diintimidasi oleh unjuk kekuatan,” ujarnya.
Gharibabadi bahkan mengeklaim Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan keputusan mengenai pembukaan maupun penutupannya menjadi kewenangan Teheran.
“Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, sekarang milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan. Reuters melaporkan lalu lintas minyak mentah melalui Selat Hormuz saat ini sangat terbatas akibat konflik dan blokade yang berlangsung.
Sebelumnya, Trump mengklaim Angkatan Laut AS memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz dan mengatakan Washington memiliki kendali atas jalur perairan strategis tersebut.
Presiden AS itu juga menyatakan akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan, meski tidak menjelaskan mekanisme hukum maupun langkah yang akan digunakan untuk merealisasikan pernyataan tersebut.
Pernyataan Trump langsung mendapat bantahan dari sejumlah pejabat Iran.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, sebelumnya mengatakan tidak ada kapal yang dapat melewati Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran.
Iran juga berulang kali menyatakan tidak akan membuka kembali jalur tersebut selama Amerika Serikat masih melakukan intervensi di kawasan dan mempertahankan tekanan militernya.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian internasional karena perairan tersebut merupakan salah satu jalur energi paling strategis dunia. Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam global melewati kawasan tersebut.
Washington dan Teheran sebelumnya sempat terlibat pembicaraan mengenai pengaturan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, tetapi perbedaan mengenai kendali atas perairan tersebut masih menjadi salah satu persoalan utama.
ANTARA









