BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS mencatat tingkat ketertelusuran hingga ke perkebunan atau Traceability to Plantation (TTP) mencapai 100 persen. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat transparansi rantai pasok dan memastikan asal-usul bahan baku kelapa sawit dapat diketahui.
Chief Sustainability Officer, PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo mengatakan sistem ketertelusuran menjadi elemen penting dalam penerapan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, perusahaan perlu memiliki informasi yang jelas mengenai sumber bahan baku yang masuk dalam rantai pasok.
"Traceability merupakan bagian penting dari tata kelola rantai pasok. Kami perlu mengetahui dari mana bahan baku berasal, sehingga dapat melakukan pemantauan dan memastikan penerapan prinsip keberlanjutan," kata Henky kepada Borneonews pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Berdasarkan data perusahaan dalam materi presentasi, tingkat Traceability to Plantation SSMS mencapai 100 persen, sementara tidak terdapat bahan baku yang masih berstatus under verification. Artinya, seluruh sumber bahan baku yang tercatat telah dapat ditelusuri hingga tingkat perkebunan.
Pada 2025, data FFB Sourcing Statistics mencatat total produksi Tandan Buah Segar (TBS) mencapai 2.008.634.017,23 kilogram. Produksi tersebut berasal dari kebun inti sebesar 1.447.287.505,85 kilogram, petani swadaya sebanyak 44.371.843,81 kilogram, serta pihak ketiga sebesar 516.974.667,57 kilogram.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok perusahaan melibatkan berbagai sumber, mulai dari kebun inti hingga petani swadaya dan pihak ketiga. Karena itu, sistem ketertelusuran menjadi instrumen penting untuk memastikan seluruh sumber bahan baku dapat dipetakan dan dikelola sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Henky mengatakan, ketertelusuran tidak sekadar menjadi kebutuhan administratif. Sistem tersebut juga memberikan dasar bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi terhadap rantai pasok secara lebih komprehensif.
"Ketertelusuran bukan hanya soal mengetahui asal TBS. Ini juga menjadi dasar bagi kami untuk melakukan evaluasi, pengawasan dan memastikan bahwa rantai pasok yang terhubung dengan perusahaan dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Menurut Henky, penguatan sistem ketertelusuran juga semakin penting seiring dengan meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk sawit yang memiliki asal-usul jelas dan memenuhi prinsip keberlanjutan.
Dengan capaian TTP 100 persen, SSMS berupaya memastikan aspek transparansi berjalan seiring dengan penerapan berbagai standar keberlanjutan yang dimiliki perusahaan. Materi perusahaan mencatat SSMS memiliki total 35 sertifikat dari enam sistem sertifikasi, yakni RSPO, ISPO, PROPER, ISO 9001, ISO 14001 dan ISO 45001. (TESTI PRISCILLA/H)









