SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meluas signifikan. BPBD Kotim mencatat luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.207 hektare hingga 15 Agustus 2026, meningkat sekitar 710,5 hektare hanya dalam sehari.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, penambahan luasan terbesar terjadi di Kecamatan Seranau, khususnya Desa Batuah. Berdasarkan estimasi sementara, luasan karhutla di wilayah tersebut mencapai sekitar 700 hektare.

"Luasan karhutla kurang lebih ada penambahan 700-an hektare. Tapi itu angka estimasi di Kecamatan Seranau, di Desa Batuah. Memang secara tepat belum bisa dihitung dengan akurat," kata Multazam, Minggu, 16 Agustus 2026.

Kondisi di Desa Batuah menjadi perhatian karena wilayah tersebut memiliki lapisan gambut yang cukup tebal. Api di lahan gambut juga dapat menjalar di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dikendalikan.

Menurutnya, tim pengendali karhutla di Desa Batuah saat ini menerapkan strategi bertahan atau defend karena sumber air di lokasi mulai tidak tersedia.

"Tim pengendali karhutla di Desa Batuah itu memang sekarang posisi defend, dia bertahan karena sumber air sudah tidak tersedia. Jadi ketika sudah mendekati dengan perbatasan kanal mereka akan lakukan pendinginan total," jelasnya.

Multazam mengatakan, tim di lapangan mulai membuat embung-embung sebagai upaya menyediakan cadangan air untuk mendukung proses pemadaman dan pendinginan.

Berdasarkan informasi terakhir, api di sisi timur Desa Batuah telah berhasil dikendalikan. Namun, bagian utara masih menjadi perhatian karena angin kencang mempercepat penyebaran api.

"Mudah-mudahan informasi terakhir kemarin di sisi sebelah timur sudah mereka bisa atasi, cuma yang utara belum. Yang utara itu karena angin atas yang cukup kencang sehingga perluasan itu terjadi," ujarnya.

Data BPBD Kotim menunjukkan, luas karhutla meningkat dari 496,8 hektare pada 14 Agustus 2026 menjadi 1.207,3 hektare pada 15 Agustus 2026. Artinya, terjadi penambahan sekitar 710,5 hektare atau sekitar 143 persen dalam satu hari.

Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar. Pada 14 Agustus, luas lahan terbakar di wilayah tersebut tercatat sekitar 3,5 hektare.

Sehari kemudian, angkanya melonjak menjadi sekitar 703,5 hektare. Dengan luasan tersebut, Seranau menyumbang sekitar 58,27 persen dari total luas karhutla di Kotim.

Selanjutnya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tercatat memiliki lahan terbakar sekitar 139,8 hektare atau 11,58 persen. Kemudian Kecamatan Baamang dengan sekitar 114,6 hektare atau 9,49 persen.

Tidak hanya luasan lahan yang bertambah, jumlah kejadian karhutla yang ditangani BPBD Kotim juga meningkat. Pada 14 Agustus tercatat 302 kejadian. Angka tersebut bertambah menjadi 317 kejadian pada 15 Agustus 2026.

Sementara itu, akumulasi titik panas atau hotspot di Kotim mencapai 2.983 titik hingga 15 Agustus. Jumlah tersebut bertambah 276 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 2.707 titik.

Multazam menegaskan, angka luasan di Desa Batuah masih berupa estimasi karena kondisi lapangan menyulitkan pengukuran secara akurat. Namun, peningkatan tersebut menjadi perhatian serius karena karakteristik gambut memungkinkan api bergerak cepat di bawah permukaan.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada pemadaman api di permukaan, tetapi juga membutuhkan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala. (DEWI PATMALASARI/R)