SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Keterbatasan sumber air menjadi kendala utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kemarau panjang membuat sumber air di permukaan banyak mengering sehingga menyulitkan proses pemadaman.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan pemadaman di lahan gambut. Kondisi semakin sulit ketika wilayah tersebut mengalami hari tanpa hujan dalam waktu cukup panjang.

"Yang paling utama ketersediaan air, air pemadaman. Dalam kemarau dan hari tanpa hujan yang cukup panjang, tentu air-air yang berada di permukaan sudah tidak tersedia," kata Multazam, Minggu, 16 Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat petugas harus mencari alternatif sumber air untuk mendukung operasi pemadaman. Salah satunya dilakukan Manggala Agni dengan membangun sumur bor di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7.

Sumur bor dibuat dengan kedalaman sekitar 20 meter dan telah menghasilkan air dan ditampung terlebih dahulu di embung portabel.

"Kami dibantu teman-teman Manggala Agni di daerah Tjilik Riwut Kilometer 7. Mereka membangun sumur bor dengan kedalaman 20 meter, dapat air, tetapi secara bertahap ditampung dulu di embung-embung portable," ujarnya.

Multazam mengatakan, upaya tersebut membantu penanganan karhutla di sekitar Kilometer 7 Jalan Tjilik Riwut. "Per hari ini tadi kondisi kebakaran yang di area Kilometer 7 Tjilik Riwut itu sudah bisa padam," katanya.

Berdasarkan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar hingga 15 Agustus 2026 mencapai 1.207,3 hektare dari total 317 kejadian karhutla yang telah ditangani. Sementara itu, akumulasi titik panas (hotspot) di Kotim mencapai 2.983 titik.

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan penanganan karhutla masih cukup berat, terutama di kawasan gambut yang dapat menyimpan api di bawah permukaan.

Karena itu, ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan proses pemadaman dan pendinginan berjalan maksimal. (DEWI PATMALASARI/R)