BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) terus memperkuat keterlibatan petani swadaya dalam ekosistem kelapa sawit berkelanjutan. Berdasarkan data perusahaan, sedikitnya 1.280 anggota dari dua kelompok petani swadaya terhubung dalam skema sertifikasi RSPO dengan total luas areal mencapai sekitar 3.745,71 hektare.
Chief Sustainability Officer, PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo mengatakan keberlanjutan industri kelapa sawit tidak dapat hanya dibebankan kepada perusahaan. Petani swadaya yang menjadi bagian dari rantai pasok juga memiliki peran penting dalam memastikan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.
"Petani swadaya merupakan bagian penting dari ekosistem kelapa sawit. Karena itu, keberlanjutan harus dibangun bersama, termasuk melalui peningkatan kapasitas, pendampingan dan penerapan standar yang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan kebun," ujar Henky kepada Borneonews pada Senin, 17 Agustus 2026.
Berdasarkan materi perusahaan, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) tercatat memiliki 774 anggota dengan total areal 1.747,73 hektare. Kelompok tersebut memiliki nomor anggota RSPO 1-0279-19-000-00 yang tercatat sejak 2019.
Sementara itu, BUMDes Berkah Mulya Jaya memiliki 506 anggota dengan total luas areal mencapai 1.997,98 hektare. Kelompok tersebut tercatat memiliki nomor anggota RSPO 1-0434-23-000-00 sejak 2023.
Jika digabungkan, kedua kelompok tersebut mencakup 1.280 anggota dengan luas areal sekitar 3.745,71 hektare. Data tersebut menunjukkan adanya upaya memperluas penerapan praktik keberlanjutan hingga ke tingkat petani swadaya.
Henky mengatakan, keterlibatan petani dalam sistem keberlanjutan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi sertifikasi, tetapi juga dapat meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola kebun secara lebih baik.
"Yang kami harapkan bukan sekadar petani memiliki sertifikasi. Lebih jauh, mereka memahami praktik-praktik yang baik, mulai dari pengelolaan kebun, aspek lingkungan, hingga pemenuhan standar sosial," katanya.
Keterlibatan petani swadaya juga memiliki kaitan dengan program konservasi yang dikembangkan SSMS. Dalam materi perusahaan, strategi keberlanjutan tidak hanya mencakup sektor perkebunan, tetapi juga pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Salah satunya melalui program konservasi orangutan di Pulau Salat. Kolaborasi dengan kelompok masyarakat dan petani menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam menghubungkan pemberdayaan masyarakat dengan upaya perlindungan lingkungan.
Henky menegaskan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari visi perusahaan untuk membangun rantai pasok yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
"Pada akhirnya, keberlanjutan harus memberikan nilai bagi semua pihak. Perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, tetapi di saat yang sama masyarakat juga harus mendapatkan manfaat dan memiliki peran dalam menjaga kawasan," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/y)









