PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS – Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan, khususnya menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat berdampak luas terhadap kehidupan warga.

Anggota DPRD Palangka Raya, Khemal Nasery, mengingatkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti pada terbakar atau tidaknya hutan dan lahan. Dampaknya dapat dirasakan langsung masyarakat, mulai dari memburuknya kualitas udara hingga terganggunya kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, kabut asap akibat karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tidak hanya kesehatan, aktivitas ekonomi masyarakat juga dapat terdampak ketika kualitas udara memburuk.

“Kalau sudah terbakar, efeknya juga kepada kesehatan kita seperti ISPA. Ekonomi pun ikut terganggu. Masyarakat sulit keluar rumah untuk beraktivitas karena udara yang tidak bagus dan tidak sehat,” tutur Khemal, saat dikonfirmasi pada Senin 17 Agustus 2026.

Khemal menilai menjaga lingkungan merupakan bagian dari mengisi kemerdekaan dengan tindakan nyata. Masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama.

Ia menegaskan, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, petugas pemadam kebakaran maupun aparat terkait. Kesadaran masyarakat menjadi benteng pertama untuk mencegah munculnya titik api.

Karena itu, Khemal mendorong penguatan sinergi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, aparat, relawan dan masyarakat dalam melakukan pencegahan sejak dini.

“Kesadaran masyarakat menjadi benteng utama. Kecamatan dan kelurahan juga harus aktif membangun komunikasi dengan warga, terutama dalam memberikan imbauan dan melakukan pencegahan,” ujarnya.

Menurut Khemal, semangat kemerdekaan harus diwujudkan dengan menjaga lingkungan dan memastikan masyarakat dapat hidup sehat, aman serta tetap menjalankan aktivitas ekonomi tanpa terganggu kabut asap.

“Kemerdekaan harus dirasakan masyarakat. Jangan sampai warga justru harus membatasi aktivitas karena udara tidak sehat akibat karhutla yang sebenarnya bisa kita cegah bersama,” pungkasnya. (MARINI/H)