SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Salah satu veteran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dengan mengenakan pakaian kebesaran, Kadar Usman  hadir di kawasan Stadion 29 November, Sampit dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke -81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Di usianya yang kini menginjak 83 tahun, ingatannya tentang masa-masa saat mengabdi sebagai prajurit TNI Angkatan Darat masih terasa begitu kuat.

Kadar merupakan salah satu dari belasan veteran yang turut hadir dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

Pria kelahiran Jawa Timur, 8 April 1943, yang kini menetap di Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Sampit, mengawali karier militer pada usia 23 tahun, sekitar 1964.

Ia mengabdi selama kurang lebih 35 tahun sebelum akhirnya memasuki masa pensiun pada tahun 1991 dengan pangkat terakhir Sersan Mayor.

Ia menceritakan, masuknya dirinya ke jajaran Angkatan Darat terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, saat Indonesia sedang berada dalam situasi konfrontasi dengan Malaysia.

"Saya masuk Angkatan Darat itu zamannya Soekarno, Ganyang Malaysia. Waktu itu Indonesia kontra dengan Malaysia," ujar Kadar mengenang masa awal pengabdiannya, Senin, 17 Agustus 2026.

Perjalanan tugasnya pun membawanya ke berbagai daerah. Pada tahun 1966, ia ditugaskan ke Kalimantan Barat untuk menghadapi kelompok Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Pengalaman bertugas juga dijalaninya di Timor-Timur pada tahun 1977 hingga 1978. Puluhan tahun di medan tugas tak lepas dari kehilangan rekan-rekan seperjuangan.

"Kalau dibilang banyak keluhan, banyak. Tidak sesuai dengan penerimaan. Kita berdua banyak korban," kenangnya dengan nada haru.

Mengenang masa kecilnya di sekitar tahun 1948 saat Belanda masih berkuasa, Kadar menyampaikan betapa beratnya penderitaan rakyat saat itu. Menurutnya, perbandingan dengan kehidupan saat ini terasa sangat jauh berbeda.

"Kalau dibandingkan, penderitaan tahun 1948 dengan sekarang sangat jauh. Sekarang sudah merdeka, sudah enak," ucapnya.

Namun bagi Kadar, kemerdekaan bukan berarti perjuangan telah usai. Ia menegaskan bahwa tantangan bangsa kini berubah bentuk, dan menurutnya justru lebih sulit dihadapi karena tidak tampak secara langsung.

"Belanda bisa diketahui, mudah. Tapi musuh yang dalam selimut itu lebih berbahaya," katanya, salah satunya yang ia maksud adalah praktik korupsi.

Di masa pensiunnya, Kadar menerima penghasilan sebesar Rp2,8 juta per bulan angka yang menurutnya belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup, terlebih jika dibandingkan saat pertama kali pensiun yang hanya menerima Rp85.100. Meski begitu, ia tetap bersikap terbuka dan memaklumi keadaan pemerintah.

"Pensiun saya Rp2,8 juta. Ya, enggak cukup. Awal pensiun hanya Rp85.100. Kalau kita mengutarakan banyak, tapi itu memerlukan waktu. Pemerintahan itu banyak kekurangan-kekurangan kita, tapi kita menerima," ungkapnya.

Kini, di sela kesederhanaan hidupnya yang diisi dengan berkebun, Kadar berpesan kepada generasi penerus agar menyadari bahwa musuh bangsa kini telah berubah. "Dulu kita melawan penjajah. Sekarang musuh kita berbeda," tegasnya.

Harapan sederhananya: generasi penerus mampu menjaga kemerdekaan yang diraih dengan tetesan keringat dan air mata para pendahulu, serta berani melawan segala bentuk keburukan yang dapat merugikan bangsa dan negara. (DEVIANA/R)