BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menunjukkan eskalasi yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan BMKG Palangka Raya, Senin, 17 Agustus 2026, tercatat sebanyak 343 titik panas (hotspot) menyebar di Kabupaten Kapuas, menempatkan daerah ini di peringkat kedua tertinggi penyebaran titik panas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
Lonjakan jumlah titik panas tersebut mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan hari sebelumnya yang berada pada angka 280 titik. Kenaikan drastis dalam kurun waktu 24 jam ini memicu kewaspadaan tinggi dari pemerintah daerah setempat serta jajaran petugas pemadam kebakaran gabungan yang disiagakan penuh di area rawan karhutla.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas telah menetapkan zona prioritas penanganan guna mengoptimalkan pengerahan personil dan armada pemadam di lapangan agar pemadaman dapat berjalan efektif dan terarah.
"Fokus 3 kecamatan, yakni Mantangai, Dadahup dan Kapuas Murung," ungkap Kepala BPBD Kapuas Pangeran S. Pandiangan baru-baru ini.
Di lapangan, eskalasi karhutla juga terkonfirmasi dari derasnya arus informasi dan aduan dari masyarakat. Hingga saat ini, sejumlah laporan kejadian karhutla terus masuk bertubi-tubi di wilayah Kapuas melalui jejaring relawan dan pusat koordinasi bencana, mengindikasikan bahwa titik-titik api baru masih terus bermunculan.
Kondisi ini memaksa tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, serta Manggala Agni dan relawan masyarakat bergerak cepat tanpa henti. Pihak Damkar Gabungan tengah sibuk melakukan pemadaman darat secara maraton serta tetap dalam posisi bersiaga penuh menghadapi potensi pembesaran volume api akibat hembusan angin keras.
Dengan dominasi struktur tanah gambut di kecamatan rawan seperti Mantangai dan Dadahup, kesiapsiagaan dan kerjasama masyarakat di tengah musim kemarau yang kering menjadi kunci penanggulangan bencana. (SABRIANOOR/j)









