BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebaran titik panas (hotspot) di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami lonjakan tajam dalam kurun beberapa hari terakhir. Berdasarkan akumulasi data satelit yang dihimpun oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jumlah titik panas di wilayah Kalteng telah menembus angka 2.120 titik, meningkat signifikan dibanding rentetan hari sebelumnya.
Pemantauan satelit mendeteksi lonjakan tersebut secara beruntun dari akumulasi harian. Jika pada 16 Agustus tercatat sebanyak 1.930 titik panas, maka pada pemantauan per 17 Agustus pukul 00.00 hingga 18.00 WIB, angka tersebut meroket hingga menyentuh 2.120 titik yang tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota di Kalteng.
Data BMKG menempatkan Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi mencapai 522 titik, disusul Kabupaten Kapuas sebanyak 343 titik, dan Kabupaten Katingan sebesar 276 titik. Sementara itu, Kota Palangka Raya mencatatkan 232 titik dan Kabupaten Pulang Pisau berada di angka 147 titik panas.
Deteksi sebaran titik panas tersebut dipantau secara simultan melalui instrumen penginderaan jauh modern. Pihak BMKG mengonfirmasi bahwa data ini bersumber dari empat satelit cuaca dan lingkungan terkemuka. "HS dari satellite Terra, Aqua, S-Npp dan NOAA20 mendeteksi adanya titik panas," papar Prakirawan BMKG, Chandra, saat menguraikan basis data pemantauan cuaca dan karhutla.
Fenomena peningkatan titik panas ini tidak lepas dari kondisi meteorologis ekstrem yang saat ini sedang melanda sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. Durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) yang relatif panjang telah mengeringkan vegetasi dan memicu penurunan kelembaban udara secara drastis di atas lahan-lahan gambut maupun mineral.
Chandra menjelaskan bahwa kombinasi faktor cuaca dan keberadaan titik api aktif mempercepat proses keterbakaran lahan di lapangan. "Dalam hal ini karena memang di beberapa wilayah Kalteng banyak titik api fire spot pada lahan yang sedang terbakar, didukung faktor meteorologis saat ini tidak terjadi hujan/hari tanpa hujan yang panjang, kelembaban menurun, suhu maksimum meningkat sehingga potensi kemudahan terbakarnya lahan di lapisan atas sangat cepat/sangat mudah," terangnya.
Melihat tren peningkatan yang kian masif ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan satgas karhutla lintas sektor untuk memperkuat mitigasi pencegahan serta kesiapsiagaan armada pemadam. Tanpa intervensi pemadaman yang agresif dan dukungan cuaca, risiko perluasan kebakaran hutan serta ancaman bencana kabut asap lintas wilayah diperkirakan masih berada pada rentang sangat tinggi. (SABRIANOOR/j)









