BORNEONEWS, Sampit – Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membawa berkah bagi usaha penyewaan pakaian adat di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Permintaan sewa baju adat meningkat menjelang berbagai kegiatan Agustusan, mulai dari upacara hingga karnaval.
"Alhamdulillah ada peningkatan menjelang HUT-RI ini. Di hari biasa mungkin biasanya hanya satu sampai dua orang, tapi menjelang HUT-RI ini ada peningkatan permintaan untuk upacara dan karnaval," kata Owner Oyie Gallery Nisa Rahma Anggita, Senin, 17 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, calon pelanggan mulai mencari dan menanyakan ketersediaan pakaian sejak pekan pertama Agustus. Pada minggu pertama, permintaan umumnya datang dari anak-anak TK dan SD yang membutuhkan pakaian adat untuk mengikuti karnaval di tingkat sekolah. Memasuki minggu kedua, pesanan mulai berdatangan dari pelajar SMA serta instansi pemerintahan.
"Biasanya puncaknya itu H-1 atau H-2," ujarnya.
Dari berbagai jenis pakaian yang tersedia, baju adat Dayak atau pakaian adat lokal menjadi yang paling banyak diminati pelanggan.
Permintaan berikutnya datang untuk pakaian adat daerah lain dengan desain yang lebih sederhana. Jenis pakaian tersebut biasanya dipilih orang tua, guru maupun staf instansi pemerintahan, seperti pakaian Melayu kurung.
Sementara pakaian adat dengan model lebih mencolok atau lengkap dengan aksesori biasanya diminati kalangan anak muda untuk kegiatan pawai pembangunan.
"Kalau baju adat dengan model agak heboh biasanya permintaan datang dari kalangan anak muda yang biasa dipakai untuk pawai pembangunan," tambahnya.
Untuk momentum HUT RI, penyewa paling banyak berasal dari kalangan dewasa, khususnya staf kantor pemerintahan dan guru yang mengikuti upacara.
Setelah itu disusul pelajar SMP yang membutuhkan pakaian untuk fashion show, kemudian siswa SMA yang umumnya mencari pakaian adat berpasangan untuk ditampilkan dalam pawai atau karnaval.
Oyie Gallery menawarkan harga sewa baju adat dengan tarif berbeda berdasarkan usia dan jenis pakaian.
Untuk anak-anak, harga sewa mulai Rp50 ribu. Sementara pelajar SMP mulai Rp80 ribu dan dewasa mulai Rp100 ribu.
"Harga sewa juga kembali lagi tergantung pada jenis pakaian dan aksesori kelengkapannya," jelas Nisa.
Meski permintaan meningkat pada momentum HUT RI, Nisa mengatakan pihaknya tidak menaikkan tarif sewa. Harga yang berlaku tetap sama seperti hari biasa.
"Untuk harga itu kami konsisten. Jika di hari biasa Rp100 ribu, maka saat event besar atau high season seperti ini harganya tetap sama. Di tahun-tahun sebelumnya pun sama," bebernya.
Tingginya permintaan pada momentum tertentu juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya keterbatasan stok pakaian dan aksesori. Menurut Nisa, jumlah permintaan terkadang melebihi koleksi yang tersedia. Pihaknya masih dapat mengusahakan permintaan pelanggan apabila pemesanan dilakukan jauh-jauh hari. Namun jika pesanan mendadak menjelang hari pelaksanaan lebih sulit dipenuhi.
"Kadang kita memang bisa mengusahakan permintaan konsumen, asal permintaan itu deal dari jauh-jauh hari. Tapi kalau pemesanan itu mendadak mepet di hari H, kadang kami belum bisa memenuhi," ungkapnya.
Dalam kondisi tertentu, dirinya harus mencari kombinasi pakaian dan aksesori yang tersedia agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pelanggan.
"Jika ada kasus di mana barang itu memang harus ada, maka kami pun memutar otak sekreatif mungkin memadu-madankan aksesori dan pakaian yang tersisa," ujarnya.
Meski jumlah penyewa tahun ini secara keseluruhan disebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, Nisa memperkirakan omzet pada momentum HUT RI tetap dapat meningkat signifikan dibandingkan hari biasa.
Ia memperkirakan omzet persewaan pakaian adat dapat mencapai enam hingga tujuh kali lipat dari kondisi normal.
"Mungkin enam sampai tujuh kali lipat dari hari biasa," katanya.
Menurut Nisa, bisnis penyewaan pakaian adat memang bersifat musiman. Permintaan biasanya meningkat pada momentum tertentu, seperti perayaan HUT RI, Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan hingga musim perpisahan sekolah.
Ia menilai kondisi ekonomi yang belum stabil kemungkinan turut memengaruhi jumlah penyewa tahun ini. Namun, angka tersebut masih dapat berubah karena sebagian besar pelanggan biasanya melakukan pemesanan mendekati hari pelaksanaan.
"Biasanya orang-orang menyewa itu mepet, H-1 biasanya baru bisa kita nilai," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









