BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dihadapkan pada keterbatasan personel pemadam. Kondisi ini membuat penanganan di sejumlah titik kebakaran semakin berat.
"Di saat ini titik api bertambah, kita kekurangan personel. Dulunya satu pleton itu 21 sampai 12 orang, sekarang ini satu regu itu enam orang, jadi kekurangan," kata Wabup Kotim Irawati, Senin, 17 Agustus 2026.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah berharap keterlibatan masyarakat dalam membantu penanganan karhutla. Irawati meminta warga tidak hanya menyaksikan ketika kebakaran terjadi, tetapi ikut membantu sesuai kemampuan.
Ia menilai karhutla merupakan tanggung jawab bersama karena dampaknya dirasakan seluruh masyarakat.
"Saya berharap seperti apa yang disampaikan Bupati pada saat acara kebangsaan tadi, masyarakat ayo sama-sama kita turun. Jangan hanya dilihat, seperti saya turun ke lapangan, mereka cuma lihat, nonton, ataupun rebah-rebah," ujarnya.
Irawati mengajak masyarakat bersama-sama menjaga wilayah Kotim, terutama kawasan perkotaan yang turut terdampak kebakaran dan asap.
"Kotim ini milik kita. Bagaimana kita bisa menghindari atau meredam karhutla itu sendiri, terutama di wilayah kota," katanya.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Kaca Piring Darat. Irawati mengatakan, api di wilayah tersebut masih menyala meski telah ditangani selama dua hari.
"Saat ini di Kaca Piring Darat itu sudah dua hari tidak padam-padam dan apinya masih menyala," ungkapnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar ikut membantu apabila menemukan kejadian karhutla. "Mohon kepada semuanya yang ada di Kotim, apabila terjadi karhutla, ayo sama-sama kita turun, sama-sama kita memadamkan karhutla. Karena bukan hanya tugas dari pemadam kebakaran, bukan hanya tugas dari BPBD, tapi tugas kita semua bagaimana menjaga Kotim," tegasnya.
Di tengah keterbatasan personel, Irawati juga menyoroti kondisi petugas yang berada di lapangan. Sejumlah petugas mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan setelah berulang kali menangani kebakaran.
"Kondisi para petugas di lapangan sepertinya memaksakan keadaan. Ada yang sudah darah tinggi, pusing-pusing, diare, tapi karena memang semangat mereka, dikasih obat sebentar turun lagi," tuturnya.
Irawati mengaku telah meminta petugas bergantian beristirahat. Namun, semangat untuk memadamkan api membuat sebagian petugas tetap memilih bertahan di lapangan.
"Bahkan saya juga meminta, ayo gantian-gantian istirahat, tapi mereka tidak mau. Tapi semangatnya bagaimana mereka bisa memadamkan karhutla itu sendiri," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









