BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS terus memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG melalui kombinasi sertifikasi, tata kelola rantai pasok, pemberdayaan masyarakat, hingga perlindungan keanekaragaman hayati.
Chief Sustainability Officer, PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo mengatakan penerapan ESG harus menjadi bagian dari keseluruhan proses bisnis perusahaan. Menurutnya, keberlanjutan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui pencapaian sertifikasi, tetapi harus diterjemahkan dalam praktik nyata yang memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat.
"Komitmen kami adalah memastikan setiap bagian dari bisnis berjalan sesuai dengan standar keberlanjutan, sekaligus memiliki akuntabilitas dan ketertelusuran yang jelas," kata Henky kepada Borneonews pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Berdasarkan materi perusahaan, SSMS tercatat memiliki total 35 sertifikat yang diperoleh dari enam sistem sertifikasi, yakni RSPO, ISPO, PROPER, ISO 9001, ISO 14001 dan ISO 45001. Berbagai sertifikasi tersebut mencakup aspek keberlanjutan perkebunan, pengelolaan lingkungan, mutu, serta kesehatan dan keselamatan kerja. Informasi perusahaan juga menyebut seluruh operasionalnya telah tersertifikasi ISPO dan menerapkan standar keberlanjutan global melalui RSPO.
Menurut Henky, sertifikasi menjadi salah satu instrumen untuk memastikan sistem perusahaan berjalan sesuai standar. Namun, implementasinya harus terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan industri yang semakin kompleks, termasuk tuntutan terhadap transparansi rantai pasok dan perlindungan lingkungan.
Hal tersebut terlihat dari capaian Traceability to Plantation (TTP) yang dalam materi perusahaan tercatat mencapai 100 persen. Pada 2025, total sumber TBS yang tercatat mencapai sekitar 2,008 juta ton, yang berasal dari kebun inti, petani swadaya dan pihak ketiga. Capaian ketertelusuran tersebut juga telah diberitakan dalam publikasi industri sawit pada 2026.
Di sisi sosial, SSMS juga melibatkan kelompok petani swadaya melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) dan BUMDes Berkah Mulya Jaya. Berdasarkan materi perusahaan, kedua kelompok tersebut mencakup total 1.280 anggota dengan luas areal sekitar 3.745,71 hektare dan terhubung dengan skema sertifikasi RSPO.
"Keberlanjutan harus dibangun bersama. Perusahaan, petani, masyarakat, lembaga konservasi dan pemangku kepentingan lainnya memiliki peran masing-masing. Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem sawit yang bertanggung jawab," ujar Henky lagi.
Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam program social forestry melalui kolaborasi dengan sejumlah kelompok masyarakat. Sementara dari sisi lingkungan, SSMS mengembangkan strategi mitigasi emisi melalui pemanfaatan biogas dan penangkapan metana dari POME, substitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, serta konservasi orangutan di Pulau Salat.
SSMS juga menjalankan program konservasi orangutan bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Pulau Salat. Kawasan tersebut menjadi bagian dari program rehabilitasi dan pra-pelepasliaran orangutan. SSMS sebelumnya menyebut program keberlanjutan perusahaan juga mencakup sejumlah program RaCP di Kalimantan Tengah, termasuk konservasi orangutan dan pendampingan hutan kemasyarakatan.
"ESG bagi kami bukan sekadar kepatuhan terhadap standar. Ini adalah bagaimana perusahaan bisa menciptakan keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, manfaat bagi masyarakat dan perlindungan terhadap lingkungan. Tiga aspek tersebut harus berjalan bersama," pungkas Henky. (TESTI PRISCILLA/y)









