SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Persoalan infrastruktur masih menjadi perhatian masyarakat Mentaya Seberang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Meski hanya berjarak sekitar 700 meter dari pusat Kota Sampit yang dipisahkan Sungai Mentaya, sebagian besar akses jalan di kawasan tersebut masih berupa konstruksi kayu.

Salah satu ruas yang menjadi perhatian adalah Jalan Mentaya Seberang 1. Jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer itu menjadi akses utama bagi masyarakat setempat, dengan sekitar 90 persen konstruksinya masih berupa jalan dan jembatan kayu.

"Kami mendorong agar kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah melalui peningkatan infrastruktur yang lebih permanen dan aman," kata pemuda asal Seranau Sardi Fakhri Rakhman, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurut Sardi, Jalan Mentaya Seberang 1 diperkirakan melayani kebutuhan sekitar 700-800 kepala keluarga (KK). Ruas tersebut tidak hanya digunakan untuk mobilitas warga, tetapi juga menjadi akses anak-anak menuju sekolah, masyarakat ke fasilitas kesehatan serta pelaku UMKM membawa dan menjual barang dagangan.

"Jalan ini bukan hanya sekadar akses warga. Ini menjadi jalur anak-anak sekolah, masyarakat menuju fasilitas kesehatan, sekaligus akses ekonomi bagi warga," kata Sardi.

Ia menilai kondisi jalan yang masih didominasi konstruksi kayu menimbulkan berbagai persoalan, terutama ketika mengalami kerusakan

Papan jalan, gelagar dan bagian struktur lainnya dapat mengalami kerusakan akibat kondisi lingkungan tepian Sungai Mentaya. Kelembapan, pasang-surut, arus, erosi dan gerusan turut menjadi tantangan terhadap ketahanan konstruksi.

"Ketika jalan rusak atau licin, yang terdampak bukan hanya kenyamanan. Keselamatan dan aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terganggu," ujarnya.

Persoalan tersebut kemudian dituangkan dalam Proposal Usulan Peningkatan Jalan Mentaya Seberang 1 Tahun 2026. Usulan itu diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendorong penanganan infrastruktur secara lebih terencana.

Sardi mengatakan, masyarakat tidak sekadar mengharapkan perbaikan sementara. Mereka menginginkan akses yang lebih aman dan permanen dengan konstruksi yang disesuaikan dengan karakter kawasan tepian sungai.

Namun, jenis konstruksi akhir tetap perlu ditentukan berdasarkan survei dan kajian teknis, termasuk kajian geoteknik, hidrologi atau hidraulika, analisis lalu lintas serta penyusunan Detail Engineering Design (DED).

"Yang kami dorong bukan sekadar perbaikan sementara, tetapi bagaimana jalan ini bisa ditangani secara lebih aman dan berkelanjutan," katanya.

Menurutnya, peningkatan Jalan Mentaya Seberang 1 akan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Akses yang lebih baik akan memudahkan distribusi barang, mendukung aktivitas pelaku UMKM, memperlancar mobilitas anak sekolah dan memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan maupun pelayanan publik.

Selain itu, akses yang lebih layak juga dinilai penting untuk mendukung kondisi darurat dan proses evakuasi apabila terjadi keadaan yang membutuhkan penanganan cepat.

Sardi menilai pembangunan infrastruktur juga dapat membuka peluang pengembangan potensi ekonomi kawasan Mentaya Seberang.

Kawasan tepian Sungai Mentaya dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi lokal, wisata susur sungai, kuliner tepian sungai hingga ekonomi kreatif berbasis karakter masyarakat setempat.

"Kalau aksesnya lebih baik, potensi ekonomi masyarakat juga lebih mudah berkembang. UMKM bisa bergerak, distribusi barang lebih lancar dan potensi wisata sungai bisa dikembangkan," imbuhnya.

Dengan dukungan infrastruktur, Mentaya Seberang diharapkan tidak hanya dipandang sebagai kawasan permukiman di seberang sungai, tetapi juga dapat tumbuh sebagai ruang ekonomi baru yang terhubung dengan Kota Sampit.

Dalam proposal tersebut, penanganan Jalan Mentaya Seberang 1 disebut berada dalam kewenangan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim.

Karena itu, usulan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah diarahkan untuk mendapatkan fasilitasi, koordinasi, sinkronisasi program, dukungan teknis dan/atau dukungan pendanaan sesuai kewenangan.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam mewujudkan pemerataan pembangunan.

Sardi menegaskan, masyarakat Seranau tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya berharap pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

"Kami tidak meminta perlakuan khusus. Kami hanya ingin masyarakat di Seranau mendapatkan kesempatan pembangunan yang lebih adil," tegasnya.

Menurutnya, perhatian terhadap Jalan Mentaya Seberang 1 bukan hanya menyangkut pembangunan fisik sepanjang sekitar 1,5 kilometer. Di balik ruas tersebut terdapat ratusan keluarga yang bergantung pada akses tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ada anak-anak yang membutuhkan akses menuju sekolah, pelaku UMKM yang mengandalkan jalan untuk kegiatan ekonomi, pekerja, pedagang, masyarakat lanjut usia hingga warga yang membutuhkan akses pelayanan dasar.

"Mereka bukan masyarakat yang jauh dari pusat pemerintahan. Mereka hanya berada di seberang Sungai Mentaya," kata Sardi.

Ia berharap perhatian pembangunan juga dapat menjangkau kawasan tersebut sehingga gagasan masyarakat dapat berlanjut menjadi perencanaan dan kemudian diwujudkan dalam pembangunan.

"Harapannya dari gagasan menjadi perencanaan, dari perencanaan menjadi pembangunan. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan akses yang lebih aman, ekonomi yang lebih bergerak dan masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)