BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meminta masyarakat ikut terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Warga diminta tidak menunggu api membesar sebelum mengambil tindakan.
"Sebagaimana kita dari awal dulu sudah melihat gejolak dan berdasarkan ramalan BMKG bahwa ini kemarau panjang dan panas dan ternyata benar. Puncaknya Agustus dan September, ini baru Agustus," kata Halikinnor, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kondisi kekeringan semakin terlihat dari banyaknya embung dan parit yang mulai mengering. Kondisi tersebut turut menyulitkan upaya pemadaman Karhutla.
"Kita lihat embung-embung, parit-parit sudah kering semua karena memang panasnya yang luar biasa. Dan ini banyak sekali titik api," ujarnya.
Pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani Karhutla. Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) serta instansi vertikal turut membantu penanganan di lapangan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat, termasuk TNI dan Polri. "Saya terima kasih semua OPD, termasuk juga dari instansi vertikal, dari batalyon, dari korem, dari kodim, dari polres membantu semua," katanya.
Namun keterbatasan personel dan sarana prasarana membuat penanganan Karhutla tidak mudah. Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah api meluas.
Halikinnor mengingatkan warga, khususnya yang tinggal di sekitar lokasi rawan kebakaran, agar tidak bersikap pasif ketika melihat api.
"Saya juga minta masyarakat, paling tidak masyarakat karena saya terima informasi ada masyarakat yang dekat rumahnya dia santai saja, dia tidur-tiduran dalam rumahnya sementara petugas bekerja," tegasnya.
Ia meminta masyarakat segera memadamkan api kecil yang muncul di sekitar lingkungan permukiman sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
"Saya juga minta bantuan masyarakat paling tidak mencegah dari api yang kecil di lingkungan perumahan terutama, dipadamkanlah. Jangan menunggu itu besar baru nanti menelepon pihak BPBD atau pihak Damkar," tambahnya.
Lanjutnya, kondisi cuaca yang sangat panas membuat api lebih cepat menyebar. Terlebih, ketersediaan sumber air di sejumlah lokasi mulai terbatas. "Baru setengah bulan, panasnya luar biasa, jadi sehingga embung-embung itu kering," ujarnya.
Ia berharap kolaborasi pemerintah, aparat, dunia usaha dan masyarakat dapat membantu mengurangi jumlah kejadian Karhutla di Kotim.
"Tanpa kebersamaan, tanpa kolaborasi, sinergi kita semua pihak, bagaimana kita menanggulangi Karhutla ini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









