BORNEONEWS, Tamiang Layang – Respons cepat prajurit Yonif TP 924/Uria Mapas berhasil mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Murutuwu Kabupaten Barito Timur, sebelum meluas ke area lainnya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kebakaran yang terjadi di area perkebunan sawit tersebut diketahui sekitar pukul 15.10 WIB setelah warga melaporkan adanya titik api. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 0,5 hektare.
Menerima laporan tersebut, Yonif TP 924/Uria Mapas mengerahkan 12 prajurit untuk melakukan penanganan. Personel bergerak menuju lokasi dan langsung melakukan pemadaman dengan peralatan yang tersedia.
Pasiintel Yonif TP 924/Uria Mapas, Letda Inf Didin Priyadi, mengatakan penanganan tidak hanya difokuskan pada pemadaman api, tetapi juga mencegah kobaran menjalar ke wilayah sekitar.
“Prajurit Yonif TP 924/Uria Mapas melakukan pemadaman secara langsung dengan menggunakan peralatan pemadam yang tersedia, membuat pembatas agar api tidak meluas, serta melakukan penyisiran dan pendinginan pada area yang terbakar,” kata Didin.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Api berhasil dikendalikan dan dipadamkan sebelum mengancam permukiman warga maupun fasilitas umum di sekitar lokasi.
Setelah kobaran berhasil dipadamkan, prajurit tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka melakukan pengecekan dan pendinginan pada area yang terbakar untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala.
“Api telah berhasil dikendalikan dan dipadamkan. Selanjutnya dilakukan pengecekan serta pendinginan di sekitar lokasi untuk memastikan tidak terdapat titik api yang kembali menyala,” ujarnya.
Dalam proses penanganan, prajurit Yonif TP 924/Uria Mapas juga berkoordinasi dengan unsur terkait di lapangan serta pemerintah setempat. Koordinasi tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan dan memastikan kebakaran dapat dikendalikan secara optimal.
Didin mengungkapkan, proses pemadaman bukan tanpa tantangan. Personel harus menghadapi kondisi medan dan akses menuju lokasi kebakaran serta keterbatasan ketersediaan sumber air.
“Kendala yang dihadapi antara lain kondisi medan dan akses menuju lokasi kebakaran serta ketersediaan sumber air. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui koordinasi dan tindakan cepat di lapangan,” jelasnya.
Hingga proses penanganan selesai, tidak terdapat laporan korban jiwa. Kebakaran juga tidak sampai mengancam permukiman warga maupun fasilitas umum. Sementara itu, kerugian material masih dalam proses pendataan sehingga belum dapat dipastikan.
Mengenai penyebab kebakaran, Didin mengatakan belum ada informasi yang dapat memastikan sumber api. Pemeriksaan dan informasi dari pihak terkait masih diperlukan untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.
“Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil informasi atau pemeriksaan dari pihak terkait,” katanya.
Didin mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi Karhutla dan turut berperan dalam mencegah kebakaran lahan. Terlebih, laporan masyarakat mengenai keberadaan titik api menjadi bagian penting dalam mempercepat respons di lapangan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, meningkatkan kewaspadaan saat musim kemarau serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” pungkasnya.
Penanganan Karhutla di Murutuwu ini menunjukkan bahwa kecepatan menerima informasi, pengerahan personel dan tindakan pemadaman sejak awal menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran lahan berkembang lebih luas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









