BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat mewaspadai pergerakan api di bawah permukaan gambut yang sulit terlihat. Api dapat terus menjalar meski kondisi permukaan tampak sudah padam dan berpotensi mendekati permukiman.
"Situasi ini memang ada peningkatan dari sisi jumlah kejadian dan juga perluasan. Ada yang dapat kami datangi, ada yang tidak dapat kami jangkau," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa, 18 Agustus 2026.
Pada 17 Agustus 2026, BPBD Kotim melakukan operasi penanganan di 17 titik karhutla. Penanganan dilakukan hingga sekitar pukul 23.37 WIB.
Menurut Multazam, dalam kondisi banyaknya titik karhutla, petugas lebih memprioritaskan upaya menahan laju perluasan api.
"Sebagai atensi kami untuk mematahkan perluasan dulu. Jadi kami tidak bisa menyatakan itu situasi padam," ujarnya.
Multazam menjelaskan, penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kebakaran di permukaan. Api dapat bertahan di lapisan gambut dan kembali muncul setelah permukaan terlihat aman.
"Karena gambut ketika padam itu ekstra penanganannya. Kalau luasan kecil gampang, tapi kalau luasannya cukup besar pasti kesulitan," jelasnya.
Ia menyebut salah satu lokasi dengan perluasan terbesar saat ini berada di Desa Lempuyang. Lokasi tersebut berada di kawasan konsesi dan penanganannya melibatkan berbagai pihak.
"Sementara ini eskalasi yang paling besar perluasan ada di Desa Lempuyang, tetapi itu di wilayah konsesi. Berbagai pihak sudah mengetahui hal tersebut dan dilakukan upaya-upaya mencari solusi terkait dengan kawasan tersebut," katanya.
Sementara itu, kondisi karhutla di kawasan Jalan Kaca Piring mulai berkurang. Namun, petugas masih harus melakukan penanganan ekstra karena lokasi kebakaran berada dekat dengan permukiman warga.
"Yang Jalan Kaca Piring, termonitor pagi tadi tinggal sebagian saja di wilayah pinggir, tetapi itu ekstra karena mendekati pemukiman. Kurang lebih sekitar 30-40 meter sudah," ungkap Multazam.
Multazam menjelaskan, pergerakan api di lahan gambut tidak selalu mengikuti arah angin di permukaan. Api justru dapat menjalar di bawah tanah dan muncul di lokasi lain tanpa mudah terdeteksi.
"Karena api ini kalau angin permukaan dia akan bergerak di atas. Yang masyarakat kita, yang kita tidak sadari itu dia bergerak di bawah," jelasnya.
Menurutnya, api yang bergerak di bawah permukaan gambut dapat bergerak berlawanan dengan arah angin. Bahkan, pergerakan tersebut tetap berlangsung pada malam hari.
"Di bawah itu dia bisa mundur, api itu tidak mengikuti arah angin. Dan dia bergeraknya tidak mengenal situasi. Jadi malam dia tetap gerak, menyala terus," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lahan gambut terbakar. Api yang tidak terlihat dapat tiba-tiba muncul di dekat rumah.
"Sehingga kadang-kadang kita tertidur, ternyata kebakarannya sudah ada di dekat rumah. Itu yang kita waspadai," tandas Multazam. (DEWI PATMALASARI/J)









