JAKARTA –

BORNEONEWS, London – Pemerintah Inggris tengah menyiapkan kemungkinan pembatasan penggunaan air yang lebih ketat seiring meluasnya kekeringan. Kebijakan tersebut berpotensi menyasar penggunaan air non-esensial oleh sejumlah sektor usaha, termasuk pencucian mobil, pembersihan jendela hingga pengisian kolam renang pribadi.

Kondisi kekeringan di Inggris memang terus memburuk. Data resmi Environment Agency menunjukkan sekitar 71 persen wilayah Inggris berdasarkan luas daratan telah berstatus kekeringan dan lebih dari 27 juta orang telah terkena pembatasan penggunaan air.

Pemerintah saat ini mempertimbangkan perluasan larangan penggunaan air non-esensial atau Non-Essential Use Ban (NEUB).

Penerapan pembatasan tersebut harus diajukan perusahaan penyedia air dan memperoleh persetujuan pemerintah. Cakupannya dapat menyentuh kegiatan komersial tertentu apabila kondisi pasokan terus tertekan.

Southern Water menjadi salah satu perusahaan yang telah mengajukan permohonan penerapan NEUB menyusul tekanan terhadap sumber daya air di wilayah layanannya. Dokumen pengajuan menyebut kondisi kering yang berlanjut pada Juli dan Agustus berpotensi semakin meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air.

Pemerintah menyatakan berbagai skenario tengah disiapkan bersama National Drought Group untuk menjaga keamanan pasokan air.

Perusahaan penyedia air juga didorong menjalankan rencana penanganan kekeringan sekaligus mempercepat pengurangan kebocoran jaringan.

Tekanan terhadap pasokan air tidak hanya terlihat dari pembatasan penggunaan. Reservoir, aliran sungai dan sumber air tanah di berbagai wilayah juga mengalami penurunan selama periode cuaca kering dan panas berkepanjangan. Pada akhir Juli, penyimpanan reservoir secara nasional telah turun menjadi sekitar 72 persen.

Kondisi tersebut membuat pemerintah dan otoritas lingkungan meningkatkan kewaspadaan karena dampak kekeringan meluas dari kebutuhan rumah tangga hingga sektor pertanian dan kegiatan usaha.

Selain kekeringan, cuaca panas juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Inggris dan Wales menghadapi gelombang kebakaran yang signifikan pada Agustus 2026, termasuk kebakaran besar di Stourbridge, West Midlands.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham saat mengunjungi Stourbridge bahkan menggambarkan kondisi negaranya sangat rentan terhadap kebakaran akibat panas dan kekeringan yang berkepanjangan. Kebakaran di kawasan tersebut dilaporkan menghancurkan sejumlah rumah dan memaksa penanganan besar oleh petugas pemadam.

Dengan tekanan terhadap sumber daya air yang belum mereda, pemerintah Inggris terus mempersiapkan kemungkinan perluasan pembatasan apabila kondisi kekeringan semakin parah.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga pasokan kebutuhan utama sekaligus menekan konsumsi air untuk aktivitas yang dinilai tidak mendesak.

ANTARA