SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim) menangani sedikitnya 22 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sehari pada Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 19.24 WIB.

Puluhan titik tersebut tersebar terutama di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Sejumlah lokasi dilaporkan berhasil dipadamkan, tetapi masih menyisakan asap dan beberapa titik masih terdapat api aktif.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, penanganan karhutla terus dilakukan dengan mengerahkan regu BPBD, Damkar, Kodim hingga Yonif TP Mentaya.

"Situasi ini memang ada peningkatan dari sisi jumlah kejadian dan juga perluasan. Ada yang dapat kami datangi, ada yang tidak dapat kami jangkau," kata Multazam, Selasa, 18 Agustus 2026.

Berdasarkan laporan cepat Pusdalops PB Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan, beberapa titik berada di kawasan Jalan Moh Hatta dan Lingkar Selatan, Jalan Bumi Raya, Jalan MT Haryono, Jalan HM Arsyad hingga Jalan Jenderal Sudirman.

Di Jalan Moh Hatta Gang Kusuma Lingkar Selatan, Regu 6 BPBD melaporkan kebakaran telah dipadamkan pada area sekitar 1,2 hektare. Namun, lokasi masih berasap dan petugas menghadapi kendala sumber air yang cukup jauh.

Regu 6 juga menangani titik lain di Jalan Moh Hatta Lingkar Selatan dengan luas sekitar 1 hektare. Kondisi terakhir masih berasap dengan kendala sumber air yang jauh.

Titik lainnya di kawasan yang sama memiliki luas sekitar 1,5 hektare dan juga masih berasap setelah dilakukan pemadaman.

Sementara itu, di Jalan HM Arsyad depan gudang pupuk, salah satu titik dengan luas sekitar 1 hektare masih menyisakan api aktif. Penanganan di lokasi tersebut juga terkendala mesin unit yang mengalami gangguan.

"Sebagai atensi kami untuk mematahkan perluasan dulu. Jadi kami tidak bisa menyatakan itu situasi padam," ujar Multazam.

Menurutnya, kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra karena api dapat terus menjalar di bawah permukaan.

Selain Mentawa Baru Ketapang, sejumlah titik karhutla juga ditangani di Kecamatan Baamang. Di Jalan Bumi Raya 1, Regu 9 dari Yonif menangani area sekitar 0,96 hektare. Api dilaporkan padam, tetapi sebagian lokasi masih berasap. Kendala yang dihadapi berupa keterbatasan selang.

Regu 1 BPBD juga menangani kebakaran di Jalan Yuliana, Perumahan WMP 31 Jalur 7B, dengan luas sekitar 0,75 hektare. Kondisi terakhir masih berasap.

Penanganan juga dilakukan di Perumahan Citra Mandiri, Jalan Bumi Raya 1, dengan luas sekitar 0,08 hektare. Api dinyatakan padam, tetapi sebagian lokasi masih berasap.

Di Jalan Bumi Raya 1 seberang Pesantren As-Syifa, area sekitar 0,2 hektare juga telah dipadamkan. Namun, sebagian masih mengeluarkan asap dan petugas menghadapi kendala selang.

Sementara di Jalan WMP 19 dan WMP 7, Regu 1 BPBD menangani area sekitar 1 hektare. Kondisi terakhir masih berasap dan sebagian area telah diblok untuk mencegah api meluas.

Regu 3 dan 4 juga dikerahkan ke Jalan WMP 19 dan WMP 14 dengan kekuatan 19 personel dan dua unit water tank BPBD.

Laporan BPBD menunjukkan, sumber air menjadi salah satu kendala yang berulang dalam penanganan karhutla di sejumlah lokasi.

Kondisi tersebut terjadi di beberapa titik Jalan Moh Hatta Lingkar Selatan dan kawasan lainnya. Selain sumber air yang jauh, petugas juga menghadapi kendala selang dan gangguan mesin unit.

Multazam sebelumnya mengingatkan bahwa penanganan kebakaran lahan gambut tidak dapat hanya mengandalkan kondisi permukaan.

"Karena gambut ketika padam itu ekstra penanganannya. Kalau luasan kecil gampang, tapi kalau luasannya cukup besar pasti kesulitan," jelasnya.

Ia meminta masyarakat tetap waspada meskipun api di permukaan terlihat sudah padam. Asap yang masih muncul menunjukkan adanya bagian lahan yang belum sepenuhnya aman.

"Yang masyarakat kita, yang kita tidak sadari itu dia bergerak di bawah. Di bawah itu dia bisa mundur, api itu tidak mengikuti arah angin," katanya.

Menurutnya, api di bawah permukaan gambut bahkan dapat terus bergerak pada malam hari sehingga berpotensi muncul kembali di lokasi yang sebelumnya terlihat aman.

"Jadi malam dia tetap gerak, menyala terus. Sehingga kadang-kadang kita tertidur, ternyata kebakarannya sudah ada di dekat rumah. Itu yang kita waspadai," tandas Multazam. (DEWI PATMALASARI/j)