BORNEONEWS, Sampit – Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah embung yang menjadi sumber air pemadaman mulai mengering akibat cuaca panas dan kemarau.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menyiapkan Sungai Mentaya sebagai sumber air darurat apabila persediaan air di embung tidak lagi mencukupi.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan ketersediaan air menjadi persoalan yang cukup krusial dalam operasi pemadaman karhutla saat ini. Kondisi tersebut membuat petugas harus mencari alternatif sumber air yang dapat digunakan untuk mengisi armada pemadam.
"Kendala di lapangan paling utama adalah ketersediaan air pemadaman. Tetapi kami coba kemarin satu titik di kilometer 7, dibuat sumur bor artesis 12 meter dan air cukup masuk ke dalam embung," kata Multazam, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, sumur bor tersebut mampu membantu mengisi embung yang digunakan sebagai sumber air pemadaman. Kapasitas sekitar 3.000 liter dapat terisi dalam waktu lebih dari satu jam.
"Dalam satu 3.000 liter itu bisa dipenuhi dalam kurang lebih satu jam lebih," ujarnya.
Meski cukup membantu, penggunaan sumur bor belum dapat diterapkan di seluruh lokasi karhutla. BPBD masih akan berkoordinasi dengan Manggala Agni untuk melihat kemungkinan penerapan metode tersebut di titik lain.
Multazam menyebut metode pengisian embung menggunakan sumur bor tersebut merupakan salah satu percontohan yang dilakukan Manggala Agni.
"Untuk titik-titik lain kami belum berani coba. Nanti kami coba komunikasi dengan teman-teman Manggala Agni karena mereka yang bikin percontohan itu," jelasnya.
Selain persoalan teknis, BPBD juga harus mempertimbangkan keamanan peralatan. Pompa yang digunakan untuk mengambil air tidak memungkinkan dibiarkan berada di lokasi tanpa pengawasan.
"Kalau embung ditaruh ini takutnya hilang juga, karena unit pompa juga lumayan mahal. Jadi setiap kali akhir kami tarik," katanya.
Jika kondisi embung semakin mengering dan sumber air alternatif dari sumur bor belum mencukupi, BPBD Kotim telah menyiapkan langkah darurat lainnya. Sungai Mentaya disiapkan sebagai plan B untuk memenuhi kebutuhan air pemadaman karhutla.
Multazam mengatakan BPBD telah menyiapkan unit pompa berkapasitas besar yang nantinya dapat digunakan untuk mengambil air dari Sungai Mentaya.
"Tapi kami sudah siap plan B darurat, terakhir yaitu menggunakan air Sungai Mentaya dan unit pompa besarnya sudah kami siapkan," ungkapnya.
Peralatan tersebut, lanjutnya, telah dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi ketika sumber air di daratan tidak lagi mencukupi kebutuhan operasi pemadaman.
Pemanfaatan Sungai Mentaya sebagai sumber air pemadaman bukan hal baru. Langkah serupa pernah dilakukan saat penanganan karhutla pada 2019.
"Jadi kejadian seperti tahun 2019 mungkin bisa terjadi. Jadi air sudah mengambil di Sungai Mentaya," pungkas Multazam. (DEWI PATMALASARI/J)









