SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartadi Perianto, mengatakan bantuan pangan pemerintah periode ketiga tahun 2026 tersebut menyasar sebanyak 38.261 penerima yang masuk dalam desil 1 hingga 4.

“Untuk di wilayah Kotawaringin Timur sendiri pada periode yang ketiga di tahun 2026 ini, target penerimanya sebanyak 38.261 penerima yang masuk dalam desil 1 sampai 4,” kata, Rabu, 19 Agustus 2026.

Setiap penerima bantuan mendapatkan alokasi sebanyak 10 kilogram beras per bulan. Dalam penyaluran secara simbolis, masing-masing penerima akan memperoleh tiga karung beras dengan berat masing-masing 10 kilogram atau total 30 kilogram.

“Untuk hari ini, masing-masing penerima yang nantinya akan dilaksanakan secara simbolis akan menerima tiga karung beras seberat 10 kilogram. Jadi ada 30 kilogram beras untuk satu penerima,” jelasnya.

Yephi menyampaikan, kegiatan penyaluran bantuan pangan tersebut sebenarnya telah berjalan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan saat ini merupakan bagian dari penyaluran secara simbolis yang diharapkan dapat dilakukan bersama Bupati Kotim dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

“Kegiatan ini sebenarnya sudah berjalan, jadi hari ini kita juga menjalankan simbolisnya. Kami berharap nantinya Bapak Bupati dan unsur Forkopimda berkenan membantu menyerahkan secara simbolis bantuan pangan ini kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penyaluran bantuan pangan tersebut juga menjadi salah satu strategi dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Program tersebut dilaksanakan melalui sinergi antara Bulog dengan DPKP Kotim, khususnya dalam mengatur pergerakan stok beras yang tersedia di gudang Bulog.

“Penyaluran ini salah satu strategi dari Bulog yang bersinergi dengan kami di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk menggeser cadangan beras yang berada di gudang Bulog,” katanya.

Ia menjelaskan, penggeseran stok dilakukan karena hasil panen dari pertanaman pada Mei dan Juni mulai memasuki masa panen. Beras hasil panen baru dari penggilingan nantinya akan ditarik masuk untuk memperbarui cadangan yang ada.

“Kenapa harus digeser? Karena saat ini sebenarnya akan masuk hasil panen dari pertanaman bulan Mei dan Juni. Ini sudah akan memasuki masa panen sehingga beras-beras baru dari penggilingan akan ditarik masuk,” jelas Yephi.

Dengan kondisi tersebut, Yephi memastikan ketersediaan beras di Kotim relatif aman. Ia mengakui terdapat kemungkinan kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan beras, terutama dengan kondisi pertanaman pada Agustus dan September yang tidak dilakukan.

“Walaupun kita dalam kondisi seperti saat ini dan mungkin masyarakat ada kekhawatiran akan kelangkaan, kami bisa pastikan bahwa stok beras kita relatif aman,” tegasnya.

Ia berharap hasil panen pada Juli dan Agustus dapat menjadi cadangan beras baru bagi Kotim sehingga ketersediaan pangan tetap terjaga hingga beberapa bulan ke depan.

“Dari sini kami bisa menyampaikan paling tidak untuk sampai bulan September, beras hasil panen di bulan Juli maupun Agustus ini mudah-mudahan bisa menjadi cadangan beras kita yang baru,” pungkasnya. (DEVIANA/H)