BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perdagangan Rabu (11/1/2017) merupakan hari ceria bagi minyak sawit setelah harga komoditas ini melonjak hampir 2 persen. Faktor apa yang mendukung penguatan tajam itu?
Seorang pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, mengatakan kenaikan signifikan harga minyak sawit lebih karena sentimen positif dari kenaikan harga minyak nabati pesaing sawit di Dalian Commodity Exchange, Tiongkok, dan juga ditopang permintaan tinggi minyak nabati menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Selain itu, data dari pemerintah Malaysia juga turut berperan dalam mendongkrak harga minyak sawit. Penurunan produksi sebesar 6,4 persen pada November dan perkiraan akan terjadi penurunan produksi lagi pada Januari, telah menopang kenaikan harga minyak sawit.
Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat 1,7 persen menjadi 3.133 ringgit ($701) per ton pada Rabu, yang merupakan kenaikan harian tertinggi sejak 3 Januari 2017.
Untuk volume perdagangan tercatat sebanyak 55.704 lot.
Kuatnya data ekspor minyak sawit Malaysia dan lemahnya perkiraan produksi pada Januari menjadi faktor lain yang mendorong lompatan harga, kata pelaku pasar lainnya.
Ekspor minyak sawit dari Malaysia tumbuh 8-10 persen pada 10 hari pertama Januari dibandingkan dengan periode yang sama pada Desember 2016.
Harga minyak sawit kemungkinan akan menguji lagi level support di 3.089 ringgit per ton, kata analis teknikal komoditas dan energi Reuters, Wang Tao.
Sementara itu di Tiongkok, futures minyak kedelai untuk kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, menguat 1,4 persen, sedangkan untuk olein sawit kontrak Mei, DCPcv1, menanjak 1,7 persen.
Kemudian, minyak kedelai untuk kontrak Maret di Chicago Board of Trade (CBOT), BOv1, naik 0,2 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








