SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) relatif mengalami penurunan selama musim kabut asap. Namun, Dinas Kesehatan Kotim mencatat adanya peningkatan kasus iritasi tenggorokan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan berdasarkan pemantauan pihaknya, kasus ISPA dan diare justru cenderung menurun.

“Alhamdulillah, kasus ISPA relatif menurun. Diare menurun juga, cuma yang naik iritasi tenggorokan,” ujar Nugroho, Rabu, 19 Agustus 2026.

Ia menyebut pada 18 Agustus 2026 tercatat sekitar 18 kasus iritasi tenggorokan dalam satu hari. Namun pihaknya belum dapat memastikan persentase kenaikan kasus tersebut karena tidak memiliki data pembanding sebelum terjadinya kabut asap.

“Kalau sebelum karhutla kami belum mendata. Tapi selama karhutla itu fluktuatif, kadang ada dua, kadang ada tiga,” jelasnya.

Menurutnya, iritasi tenggorokan merupakan kondisi ketika tenggorokan mengalami luka atau peradangan sehingga seseorang dapat mengalami kesulitan berbicara.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya asupan cairan maupun kondisi cuaca.

Terkait dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Nugroho mengatakan asap juga dapat berpengaruh terhadap munculnya iritasi tenggorokan.

“Pengaruh. Makanya selama musim kabut asap ini yang kami pantau ISPA, diare, iritasi mata, iritasi tenggorokan, iritasi kulit, kemudian beberapa penyakit yang berkaitan seperti asma dan pneumonia,” katanya.

Dinkes Kotim belum dapat memastikan bahwa seluruh kasus iritasi tenggorokan tersebut disebabkan oleh kabut asap. Sebab, pemantauan yang dilakukan saat ini berfokus pada kondisi kesehatan masyarakat selama periode kabut asap, tanpa adanya data pembanding sebelum kondisi tersebut.

“Perkiraan karena asap bisa. Karena memang sekarang musim kabut asap. Kami tidak memantau sebelum kabut asap seperti apa, yang kami pantau selama kabut asap. Jadi kami tidak bisa memastikan penyebab pastinya,” ungkap Nugroho.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kabut asap, masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih. Selain itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker.

“Yang pertama, utamanya harus banyak minum air putih. Yang kedua, kalau beraktivitas di luar menggunakan masker. Minimal itu dulu,” pungkasnya. (DEVIANA/R)