BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan sejumlah titik api memang telah berhasil dipadamkan. Namun, titik-titik kebakaran baru masih bermunculan sehingga penanganan harus dilakukan secara maksimal.
“Mengenai karhutla khususnya, kejadian kebakaran hari ini ada di beberapa titik. Memang ada beberapa yang sudah bisa kita padamkan, tetapi masih ada titik-titik baru. Makanya saat ini kita mengerahkan semua kekuatan kita,” kata Halikinnor.
Itu ia ungkapkan saat dirinya meninjau langsung kebakaran lahan di Jalan Kaca Piring 3 tidak jauh dari kawasan perumahan warga.
Dia menyampaikan, tidak hanya mengirim personel ke posko darurat, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) juga dilibatkan secara langsung dalam penanganan karhutla.
Bahkan, kepala OPD bersama jajarannya turun ke lapangan dengan membawa mobil pikap yang dilengkapi tangki air atau profil tank. Kendaraan tersebut difungsikan untuk menyuplai air bagi armada pemadam kebakaran.
Dengan pola tersebut, mobil pemadam diharapkan dapat lebih fokus melakukan penyemprotan tanpa harus meninggalkan lokasi untuk mencari atau mengambil air.
“Tujuannya agar mobil pemadam itu hanya bertugas menyemprotkan air saja, tidak perlu lagi mencari atau mengambil air karena sudah disuplai oleh OPD-OPD yang ada,” jelasnya.
Halikinnor menegaskan, pemadaman terutama diprioritaskan pada titik api yang berada di sekitar permukiman warga. Hal ini dilakukan untuk mencegah api meluas dan membahayakan masyarakat.
Menurutnya, keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman masih menjadi salah satu kendala dalam penanganan karhutla. Meski demikian, Pemkab Kotim mendapat dukungan dari berbagai unsur, di antaranya Korem, Kodim, Polres, dan Batalyon.
Ia menyebut kondisi kemarau panjang juga membuat sumber air semakin terbatas. Sejumlah embung, parit, bahkan sumur bor dilaporkan mulai mengering.
“Kita saksikan sendiri dari bulan Juli kemarin sampai sekarang, embung-embung kita, parit-parit yang ada, bahkan sumur bor juga sudah ada yang kering. Cepat sekali keringnya,” ujarnya.
Untuk memperkuat penanganan karhutla, Pemkab Kotim juga telah menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk meminta dukungan sarana dan prasarana.
Bantuan yang diusulkan antara lain unit tangki air, pembangunan sumur bor, serta selang pemadam guna menunjang operasional di lapangan.
Sementara itu, kondisi karhutla juga berdampak terhadap sejumlah agenda pemerintah daerah. Salah satunya pelaksanaan pawai pembangunan yang untuk sementara ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Kita melihat perkembangan karhutla karena ini yang lebih utama. Karhutla ini menyangkut semua aspek, baik kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga transportasi. Semuanya terdampak,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah untuk bersama-sama terlibat dalam upaya pencegahan dan pemadaman karhutla.
Halikinnor meminta masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran turut menjaga lingkungannya masing-masing dan tidak menyerahkan seluruh penanganan kepada petugas.
“Pemadaman ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tapi tanggung jawab kita bersama: masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah,” katanya.
Ia berharap kolaborasi seluruh pihak dapat mempercepat penanganan karhutla sehingga dampak buruk terhadap masyarakat dan wilayah Kotim dapat diminimalkan.
“Saya yakin kalau kita bersama-sama, paling tidak kita bisa mengatasinya,” pungkasnya. (DEVIANA/R)









