BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Kamis (12/1/2017), para pelaku pasar di pasar komoditas Malaysia tampaknya akan menikmati euforia kenaikan harga minyak sawit pada sesi sebelumnya yang melompat nyaris 2 persen.

Menurut data Reuters, beberapa faktor fundamental yang akan mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit pada perdagangan Kamis ini sepertinya masih berasal dari Tiongkok menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

Tingginya permintaan minyak nabati menjelang perayaan tahun baru itu telah ikut mendorong kenaikan futures minyak kedelai. Kenaikan harga komotitas pesaing minyak sawit ini direspons positif pelaku pasar di bursa komoditas Malaysia kemarin, yang membuat harga minyak sawit melambung hingga melampaui level 3.100 ringgit per ton.

Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat 1,7 persen menjadi 3.133 ringgit ($701) per ton pada Rabu, yang merupakan kenaikan harian tertinggi sejak 3 Januari 2017.

Sementara faktor lain yang juga bakal ikut mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit di Malaysia adalah kondisi di Chicago Board of Trade. Meski minyak kedelai untuk kontrak Maret di Chicago Board of Trade (CBOT), BOv1, naik 0,2 persen, tapi futures gandum turun hampir 2 persen.

Kemudian, lompatan harga minyak mentah lebih dari 2,5 persen, yang merupakan kenaikan harian terbesar dalam lebih sebulan, berkat dukungan melemahnya dolar AS menyusul konferensi pers pertama Presiden Terpilih Donald Trump dan komitmen Arab Saudi untuk memangkas produksi minyaknya, menjadi katalis positif di bursa komoditas Malaysia hari ini.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Februari naik $1,43, atau 2,8%, menjadi $52,25 per barrel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan minyak mentah Brent untuk kontrak Maret di ICE Futures exchange, London, menguat $1,46, atau 2,7%, menjadi $55,10 per barrel. (NEDELYA RAMADHANI/m)