KUALA KURUN –

BORNEONEWS, Kuala Kurun – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas menargetkan seluruh balita dan ibu hamil terjangkau dalam intervensi serentak pencegahan dan penurunan stunting 2026. Salah satu fokus utama adalah memastikan penimbangan dan pengukuran balita mencapai 100 persen sasaran riil di lapangan.

Bupati Gunung Mas Jaya S Monong mengatakan intervensi meliputi pendataan, penimbangan, pengukuran, edukasi hingga pemberian intervensi gizi kepada ibu hamil dan balita.

"Posyandu menjadi ujung tombak pelaksanaan seluruh layanan tersebut, mulai dari penimbangan dan pengukuran bayi-balita, intervensi gizi, pencatatan secara real time, edukasi pencegahan stunting, hingga skrining ibu hamil dan calon pengantin," kata Jaya di Kuala Kurun, Rabu, 19 Agustus 2026.

Selain pemeriksaan pertumbuhan, balita juga mendapatkan vitamin A dan obat cacing sesuai standar pelayanan kesehatan. Agustus menjadi periode pemberian vitamin A secara serentak melalui posyandu.

Jaya menegaskan hasil penimbangan dan pengukuran harus dicatat serta dilaporkan pada hari yang sama agar data perkembangan anak dapat dipantau secara cepat.

Pemerintah daerah juga menyoroti ketersediaan alat antropometri terstandar di seluruh posyandu serta kemampuan kader dalam melakukan pengukuran.

Menurutnya, ketepatan pengukuran penting agar data yang dihasilkan benar-benar menggambarkan kondisi gizi anak.

Di tengah efisiensi anggaran, perangkat daerah hingga pemerintah desa dan kelurahan tetap diminta mencari inovasi agar kualitas intervensi tidak menurun.

Penanganan stunting juga membutuhkan koordinasi antara camat, lurah, kepala desa, puskesmas, kader posyandu dan penyuluh keluarga berencana.

"Bagi ibu hamil dan balita bermasalah gizi hendaknya segera mendapatkan intervensi perbaikan gizi dan pendampingan, disertai promosi dan edukasi pemberian makan bayi dan anak sesuai standar Kementerian Kesehatan," ujar Jaya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Gunung Mas Yantrio Aulia menyebut prevalensi stunting daerah tersebut pada 2024 tercatat sebesar 14,1 persen.

Pemerintah berharap angka itu terus menurun melalui peningkatan cakupan pelayanan dan kehadiran balita di posyandu.

Berdasarkan data semester I hingga Juni 2026, jumlah riil balita usia 0-59 bulan di Gunung Mas tercatat sebanyak 8.062 anak.

Namun, data proyeksi Kementerian Kesehatan mencatat sasaran sebanyak 14.325 balita. Perbedaan cukup besar tersebut masih dalam proses sinkronisasi oleh Dinas Kesehatan agar data sasaran lebih akurat.

Yantrio mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pihak, terutama dalam memastikan ibu hamil dan balita rutin datang ke posyandu.

"Kami berharap seluruh camat, kepala puskesmas, kader posyandu, serta pemangku kepentingan di setiap kecamatan dapat berperan aktif, sehingga intervensi serentak ini berjalan lancar dan memberikan hasil optimal bagi penurunan stunting di Gumas," katanya.