SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong penerapan pembelajaran jarak jauh atau online bagi sekolah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kalau aspirasi dari wali murid itu meminta agar sekolah tidak hanya dimundurkan jamnya, tapi diliburkan dalam situasi yang sekarang. Itu aspirasi dari wali-wali murid," kata Ketua Komisi III DPRD Kotim Dadang Siswanto, Rabu, 19 Agustus 2026.

Namun, menurutnya, keputusan terkait kegiatan belajar mengajar tetap menjadi kewenangan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk kemudian disampaikan kepada Bupati Kotim.

"Ini kita kembalikan kepada kawan-kawan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan yang punya otoritas untuk bisa menyampaikan kepada Bupati," ujarnya.

Dadang menilai, kondisi saat ini memungkinkan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh tanpa menghentikan proses pendidikan.

Menurutnya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan agar siswa tetap mendapatkan pembelajaran dari rumah, terutama di sekolah yang berada di wilayah dengan paparan kabut asap cukup tinggi.

"Sudah teknologi maju, sudah bisa Zoom dan segala macamnya. Jadi intinya kita berharap situasi sekarang, kalau kita mengakomodir keinginan dari wali murid yang menyampaikan ke kami, memang sangat memungkinkan untuk sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh dulu," ucapnya.

Ia menekankan, pembelajaran online bukan berarti sekolah menghentikan kegiatan belajar. Hanya metode pembelajarannya yang disesuaikan.

Dadang menilai keselamatan dan kesehatan siswa perlu menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai siswa tetap dipaksakan mengikuti pembelajaran tatap muka ketika kondisi udara berpotensi mengganggu kesehatan.

"Ujung-ujungnya kalau mereka dipaksa sekolah tapi kesehatan bisa terganggu, bikin masalah baru. Terutama sekolah-sekolah yang sangat terdampak kabut asap," tegasnya.

Saat ini, karhutla di Kotim semakin meluas dan menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Sampit. Kondisi tersebut membuat jarak pandang menurun dan kualitas udara memburuk, terutama pada pagi hari. Situasi ini menjadi perhatian karena aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, tetap berlangsung di tengah paparan asap. (DEWI PATMALASARI/j)