BORNEONEWS, Tamiang Layang – Hendroyono berhasil mengembangkan 11 varietas anggur di halaman rumahnya di Kelurahan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur. Eksperimen yang berawal dari rasa penasaran itu kini menjadi upaya untuk membuktikan bahwa tanaman anggur dapat tumbuh dan berbuah di wilayah Bumi Jari Janang Kalalawah.
Sekretaris Dinas Perhubungan Barito Timur itu mulai menanam anggur tanpa target besar. Ia hanya ingin mengetahui secara langsung apakah tanaman yang selama ini identik dengan daerah tertentu tersebut mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan Tamiang Layang.
“Saya ingin membuktikan sendiri apakah anggur bisa tumbuh dan berbuah dengan baik di lingkungan kita,” kata Hendroyono saat diwawancarai, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dari satu-dua tanaman, Hendroyono kemudian memperluas percobaannya dengan berbagai varietas. Halaman depan dan belakang rumahnya dimanfaatkan sebagai tempat untuk menguji teknik pemangkasan, pemupukan, pengaturan air hingga waktu pembuahan.
Proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah tanaman tumbuh subur tetapi belum menghasilkan buah. Kesalahan dalam pemangkasan, pemberian pupuk dan pengaturan air juga menjadi bagian dari pengalaman yang harus dievaluasi.
Hendroyono memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan pembelajaran. Ia memanfaatkan berbagai sumber informasi di internet, mulai dari Google, YouTube, TikTok hingga grup Facebook yang membahas teknik budidaya anggur.
“Bagi saya, keberhasilan dalam menanam anggur bukan karena tidak pernah gagal, tetapi karena mau belajar dari kegagalan dan mencoba lagi dengan cara yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, teknik budidaya yang berhasil diterapkan di daerah lain tidak bisa langsung diterapkan di Barito Timur. Kondisi tanah, curah hujan, kelembapan, intensitas cahaya matahari dan pola cuaca menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Karena itu, ia terus menyesuaikan pola pemangkasan, pemupukan, pengaturan air dan waktu pembuahan berdasarkan respons tanaman terhadap kondisi lokal.
“Prinsipnya kita pelajari dari mana saja, tetapi penerapannya harus kita sesuaikan dengan kondisi lokal. Kita harus banyak mengamati tanaman, mencoba, mengevaluasi, kemudian menemukan pola yang paling cocok,” tuturnya.
Hasil eksperimen tersebut kini mencakup 11 varietas, yakni Gosv, Heliodor, Moondrop, Ninel, Transfigurasi, Early Adora, Jupiter, Dixon, Shine Muscat, Alvika dan Everest.
Dari 11 varietas tersebut, Heliodor, Dixon dan Gosv menjadi tanaman yang paling cepat berbuah. Sementara dari sisi kualitas buah, Hendroyono menilai Dixon dan Gosv memberikan hasil terbaik.
Namun, tidak seluruh varietas mampu beradaptasi dengan tingkat keberhasilan yang sama. Ninel, Shine Muscat dan Moondrop masih membutuhkan perlakuan khusus agar dapat berkembang optimal di Tamiang Layang.
“Ninel, Shine Muscat dan Moondrop masih kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kita. Saya masih belajar memberikan beberapa perlakuan khusus, terutama mengenai teknik pemangkasan dan pemupukannya,” katanya.
Keberhasilan menghasilkan buah dari tanaman yang dirawat sendiri menjadi salah satu titik penting bagi Hendroyono. Ia mengaku sempat tidak percaya ketika tanaman anggur di halaman rumahnya mulai menghasilkan buah.
“Perasaan saya awalnya tidak menyangka dan tidak percaya. Namun setelah melihat dan merasakan betapa manisnya buah anggur hasil tanaman sendiri, saya sangat bangga,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut kemudian membuat Hendroyono melihat peluang yang lebih luas. Ia menilai budidaya anggur tidak harus berhenti sebagai hobi, tetapi berpotensi dikembangkan masyarakat Barito Timur sebagai salah satu alternatif kegiatan ekonomi.
“Masyarakat Barito Timur pasti bisa mengembangkan anggur. Kondisi tanah dengan tingkat kesuburan yang lumayan menjadi modal Barito Timur jika ingin mengembangkan perkebunan anggur. Yang penting mau belajar dan telaten. Itu kuncinya,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Hendroyono mulai membibitkan sejumlah varietas menggunakan teknik sambung sisip, grafting dan sambung pucuk. Ia menggunakan varietas Isabella sebagai batang bawah karena berdasarkan pengalamannya cukup sesuai dengan kondisi tanah Barito Timur.
Bibit beberapa varietas tersebut kini mulai disiapkan untuk masyarakat dengan harga sekitar Rp100 ribu per bibit. Hendroyono juga membuka diri untuk berbagi pengalaman dan teknik budidaya kepada warga yang ingin mulai menanam anggur.
Ia menyarankan masyarakat tidak langsung membangun kebun dalam skala besar. Budidaya dapat dimulai dari beberapa tanaman di halaman rumah sambil mempelajari karakter masing-masing varietas dan teknik perawatannya.
“Jangan terburu-buru ingin mendapatkan hasil. Pelajari dulu karakter tanaman, varietas yang cocok dengan kondisi lingkungan, terutama iklim dan cuaca setempat,” pesannya.
Hendroyono juga mengingatkan agar calon pembudidaya tidak sekadar meniru teknik dari daerah lain atau menganggap semakin banyak pupuk akan membuat tanaman semakin baik. Menurutnya, anggur membutuhkan perlakuan yang tepat dan seimbang.
“Mulailah dari beberapa tanaman terlebih dahulu, kuasai teknik dasarnya, kemudian kembangkan secara bertahap. Dengan begitu, setiap pengalaman akan menjadi ilmu sebelum kita melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Lebih jauh, Hendroyono membayangkan budidaya anggur dapat berkembang dari halaman rumah menjadi kebun-kebun masyarakat. Ia bahkan mendorong perusahaan yang beroperasi di Barito Timur untuk terlibat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Dukungan tersebut, menurutnya, dapat diarahkan untuk penyediaan bibit, pembangunan kebun percontohan, sarana irigasi, pupuk, pelatihan, pendampingan hingga pemasaran. Ia menyebut konsep tersebut sebagai “Bapak Asuh Perkebunan Anggur”.
“Gerakannya dimulai dari satu halaman, kemudian menjadi beberapa halaman, berkembang menjadi kebun-kebun masyarakat dan akhirnya menjadi potensi komoditas Barito Timur,” katanya.
Hendroyono menyadari pengembangan anggur hingga menjadi komoditas unggulan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Masih diperlukan penelitian, percobaan, pendampingan, penguatan kelompok pembudidaya hingga kepastian pasar.
Namun, ia percaya pengembangan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana. Baginya, 11 varietas anggur yang kini tumbuh di halaman rumah bukan sekadar koleksi tanaman, melainkan hasil dari proses belajar untuk menemukan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi Barito Timur.
Dari eksperimen itu, Hendroyono berharap semakin banyak masyarakat berani mencoba. Jika budidaya terus berkembang dari halaman rumah ke kebun-kebun warga, ia optimistis anggur suatu saat dapat menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi bagi Barito Timur. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









