BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) menerapkan tiga pendekatan utama atau three-pronged approach dalam menghadapi ancaman narkotika yang semakin kompleks.
Hal ini disampaikan oleh Kepala BNN RI, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, dalam kesempatan Deklarasi Akbar Perang Melawan Narkoba di Palangka Raya, Kamis 20 Agustus 2026.
Pendekatan pertama adalah hard power approach, yang diarahkan pada penegakan hukum yang tegas dan terukur terhadap jaringan serta bandar narkotika.
Langkah ini difokuskan pada pemutusan rantai peredaran gelap narkotika hingga ke lapisan tertinggi, sehingga sumber pasokan dapat diputus secara menyeluruh.
Pendekatan kedua, soft power approach, mencakup upaya pencegahan, edukasi, peningkatan literasi, hingga rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika.
Pendekatan ini menekankan pentingnya pencegahan sejak dini serta pemulihan bagi mereka yang telah terjerat narkotika, agar dapat kembali berperan aktif dalam masyarakat.
Sementara pendekatan ketiga, smart power approach, mengandalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendeteksi dan mengungkap tindak kejahatan narkotika.
Di tengah perkembangan modus operandi yang semakin canggih, teknologi menjadi kunci untuk melacak, mengawasi, dan menindak pelaku yang memanfaatkan jalur digital maupun logistik modern.
Selain tiga pendekatan tersebut, BNN RI juga resmi meluncurkan program Ananda Bersinar, singkatan dari Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak.
Program ini menempatkan anak sebagai subjek utama perlindungan melalui pembangunan ketahanan diri sejak usia dini, sehingga terbentengi dari pengaruh buruk narkotika.
Program Ananda Bersinar diarahkan untuk menjangkau hingga ke tingkat desa melalui konsep Desa Bersinar, hingga tingkat kabupaten dan kota.
"Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pencegahan penyalahgunaan narkotika mulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, sekaligus membangun pertahanan yang kokoh demi masa depan generasi bangsa," pungkasnya. (PATHUR/H)









