SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bunda PAUD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Khairiah Halikinnor bersama Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kotim Ros Ermawati meluncurkan buku berjudul Aku Cinta Budaya Dayak sebagai media pembelajaran budaya lokal bagi anak-anak taman kanak-kanak (TK).

Buku tersebut disusun setelah adanya temuan bahwa sebagian anak TK di Kotim belum cukup mengenal budaya Dayak. Materi di dalamnya dikemas untuk memperkenalkan berbagai unsur budaya lokal kepada anak sejak usia dini.

"Awalnya kami beberapa kali meninjau ke sekolah-sekolah, khusus dari TK-TK, mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Jadi kami berinisiatif untuk menciptakan buku ini, 'Aku Cinta Budaya Dayak'," kata Khairiah, Kamis, 20 Agustus 2026.

Buku tersebut memuat berbagai materi mengenai budaya Dayak yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di antaranya salam daerah, pakaian tradisional, makanan khas hingga sejarah budaya Dayak.

Khairiah menjelaskan, buku Aku Cinta Budaya Dayak ditujukan sebagai bahan pembelajaran bagi anak-anak TK di seluruh Kotim. Melalui buku tersebut, anak diharapkan lebih mudah mengenal budaya daerahnya sejak dini.

"Jadi mereka mengenal budaya Dayak. Karena selama ini mereka tidak terlalu mengenal seperti makanannya, baju adatnya, salam, dan sejarah-sejarahnya," katanya.

Ia berharap pengenalan budaya sejak usia dini dapat membentuk generasi yang memahami sekaligus mencintai budaya Dayak.

"Harapan saya, untuk generasi yang ke depan sudah mengenal adat budaya Dayak. Jadi kalau ditanya, apa sih budaya Dayak? Mereka bisa menjelaskan semua, dari makanan, pakaian, segala itu mereka tahu," tandasnya.

Sementara itu, Ketua IGTKI Kotim Ros Ermawati mengatakan pembuatan buku tersebut menjadi salah satu upaya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.

Perkembangan teknologi dan digitalisasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda.

"Zaman yang terus berkembang ini, budaya itu semakin tergerus. Di sini kami membuat bahwa digitalisasi itu menjadi jembatan emas yang nantinya akan memajukan budaya kita," kata Ros.

Ia berharap budaya Dayak dapat terdokumentasi dengan baik sehingga tetap hidup dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.

"Jadi budaya kita nanti akan tersimpan dengan sangat baik, akan lebih hidup, dan bisa tersebar sehingga orang-orang mengenal. Kemudian tentunya utamanya adalah anak-anak mencintai budaya Dayak," ujarnya.

Ros menyebut proses penyusunan buku Aku Cinta Budaya Dayak berlangsung selama sembilan bulan sebelum akhirnya diluncurkan dan disalurkan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak TK di Kotim. (DEWI PATMALASARI/R)