BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kembali menggelar Pasar Inflasi untuk membantu masyarakat memperoleh barang kebutuhan pokok dan barang penting (Bapokting) dengan harga lebih terjangkau. Menariknya, kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan dana APBD Kobar.
Pasar Inflasi berlangsung di Pasar Cempaka Kumai, Jalan Bendahara, Kecamatan Kumai, Kamis, 20 Agustus 2026. Berbagai kebutuhan masyarakat disediakan, mulai dari beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih hingga LPG 3 kilogram.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kobar Fitriyana mengatakan Pasar Inflasi menjadi salah satu terobosan pemerintah daerah untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi Disperindagkop UKM Kobar bersama Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Perum Bulog Cabang Kobar serta Pertamina Patra Niaga.
“Pasar Inflasi ini bisa dianggap sebagai suatu inovasi atau terobosan dari Pemerintah Kabupaten Kobar, dalam hal ini Disperindagkop UKM Kabupaten Kobar berkolaborasi dengan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kobar, Dinas Pertanian Kabupaten Kobar, Perum Bulog Cabang Kobar, dan Pertamina Patra Niaga Kumai atau Pangkalan Bun dalam menyiapkan Bapokting bagi masyarakat yang berkualitas dan dengan harga terjangkau,” kata Fitriyana.
Sekretaris Disperindagkop UKM Kobar Muhamad Suhendra menegaskan pelaksanaan kegiatan tersebut tidak membebani keuangan daerah.
“Pasar Inflasi ini diselenggarakan tanpa menggunakan dana APBD Kobar,” tegasnya.
Sejumlah komoditas dijual dengan harga khusus. Berdasarkan data yang disampaikan, beras premium dibanderol Rp17 ribu per 5 kilogram, beras SPHP Rp60 ribu per 5 kilogram dan telur ayam ras Rp53 ribu per tray.
Kemudian gula pasir Rp18.500 per kilogram, bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp40 ribu per kilogram serta minyak goreng Rp15.500 per liter.
Sementara LPG 3 kilogram isi ulang dijual Rp23 ribu per tabung. Pembelian LPG bersubsidi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat miskin dengan membawa fotokopi KTP dan Kartu Keluarga serta tabung kosong.
Disperindagkop UKM Kobar berharap Pasar Inflasi mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika harga sejumlah komoditas berpotensi mengalami tekanan.
“Harapannya dengan adanya Pasar Inflasi ini masyarakat dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dengan harga yang relatif murah di tengah potensi meningkatnya inflasi yang diakibatkan salah satunya yaitu situasi geopolitik dunia yang tidak menentu, terutama yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.
Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat Kumai. Salah seorang warga, Cici, berharap kegiatan serupa bisa digelar rutin.
“Pasar inflasi sangat bermanfaat bagi kami warga Kumai, terutama ibu-ibu seperti kami ini. Harapannya semoga pasar inflasi selalu ada tiap bulan, kalau bisa sebulan dua kali,” katanya.
Warga lainnya, Jian dan Saripah, juga menilai harga kebutuhan yang ditawarkan membantu pengeluaran rumah tangga.
“Adanya pasar inflasi ini sangat membantu kami ibu rumah tangga untuk goreng ikan di dapur. Harapan saya bisa dilanjutkan terus, misalkan sebulan tiga kali,” ungkap mereka.
Pemkab Kobar berharap kolaborasi lintas instansi tersebut dapat terus menjadi salah satu instrumen menjaga keterjangkauan harga dan mendukung pengendalian inflasi daerah. (NURITA/J)









