BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah pemilik usaha kecil dan menengah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur mengeluhkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk pelanggan dengan daya 900 VA yang ditetapkan PT PLN per 1 Januari 2017. Kenaikan TDL 900 VA menghambat pengembangan usaha yang dikelola masyarakat bermodal kecil.
"Usaha seperti jasa jahit pakaian sangat tergantung dengan listrik. Kami menggunakan listrik berdaya 900 VA di rumah, bukan berarti rumah tangga mampu. Hanya kalau menggunakan listrik 450 VA listriknya tidak kuat,” kata Ernawati (42), pemilik UMKM yang bergerak di bidang usaha jahit, di Sampit, Kamis (12/1/2017).
Menurut dia, apabila TDL tidak lagi disubsidi akan memberatkan pelanggan yang memiliki usaha kecil seperti dirinya. Sebab, biaya jasa seperti jahit pakaian sulit dinaikkan apalagi sebagian besar yang menggunakan jasanya merupakan pelanggan lama.
“Kalau kita naikkan tarif khawatirnya pelanggan akan lari, apalagi di usaha seperti ini banyak saingan. Seharusnya kenaikan TDL tidak dilakukan sekarang. Ini akan sangat memberatkan, ditambah lagi berbagai barang penunjang sudah naik,” ujar Erna.
Diantara alternatif yang bisa dilakukan yakni dengan menyelinggi penggunaan mesin jahit listrik menggunakan mesin jahit yang tidak menggunakan listrik sebagai tenaga penggerak. Namun cara ini juga akan berdampak pada lamanya waktu dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
Sementara pemilik usaha rental playstation menanggapi kenaikan TDL mengatakan, kondisi itu membuat usahanya semakin sulit karena konsekuensinya pendapatan berkurang.
“Pengguna PS3 sebagian besar anak-anak, tidak mungkin tarif sewa dinaikkan karena bisa berdampak tidak ada lagi yang akan main ke sini," katanya.
Karena itu dia berusaha melakukan berbagai penghematan penggunaan listrik dan biaya operasional, sehingga pendapatan tidak anjlok dan biaya operasional tertutupi. (M. RIFQI/N).








