JAKARTA –

BORNEONEWS, Bandung - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf menekankan penerapan standar pengelolaan pesantren, termasuk tata ruang dan pola pengasuhan, sebagai langkah mencegah terjadinya kekerasan dan pelanggaran terhadap santri.

Yahya dalam kunjungan di Bandung, Jawa Barat, Jumat, mengatakan gagasan standardisasi tersebut merupakan bagian dari agenda transformasi pesantren yang telah dijalankan PBNU sejak awal masa khidmat kepengurusan pada 2022.

"Ya, itu semua hasil kajian kita, itu semua terjadi karena ada hal-hal yang tidak mencukupi kebutuhan untuk pengamanan dari terjadinya kasus-kasus itu," katanya.

Menurut dia, PBNU telah melakukan berbagai kajian dan penelitian untuk merumuskan standar pesantren yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Standar tersebut mencakup infrastruktur, kurikulum, metode pengasuhan, hingga pola kegiatan yang dijalankan di lingkungan pesantren.

Ia menjelaskan kondisi tata ruang dan infrastruktur pesantren yang tidak memenuhi kebutuhan pengamanan dapat membuka peluang terjadinya kasus yang tidak diinginkan.

Selain itu, pola dan tata cara pengasuhan santri juga menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

"Itulah sebabnya kita pikirkan tentang standar ini supaya hal-hal yang tidak diinginkan, misconduct, itu bisa dicegah," katanya.

Yahya mengatakan gagasan standardisasi pesantren tersebut telah diwujudkan dalam sebuah buku dan sejumlah bagian utamanya telah diadopsi pemerintah melalui Kementerian Agama pada 2023, sebagai salah satu acuan pengembangan pesantren.

ANTARA