BORNEONEWS, Palangka Raya - Penerapan mandatori biodiesel B50 diperkirakan akan meningkatkan penyerapan minyak sawit mentah atau crude palm oil atau CPO di dalam negeri. Kondisi ini berpotensi mengurangi volume CPO yang tersedia untuk pasar ekspor dan ikut mendorong kenaikan harga minyak sawit dunia.
Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan kebutuhan CPO untuk biodiesel B50 diperkirakan mencapai sekitar 17,6 juta ton. Angka tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan produksi CPO nasional yang saat ini berada di kisaran 47 juta hingga 52 juta ton per tahun.
"Kalau suplai ke pasar internasional berkurang, sementara permintaan tetap tinggi, harga CPO pasti naik. Itu hukum ekonomi. Makin sedikit pasokan, harga akan semakin meningkat," kata Rawing pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut dosen Ilmu Pertanian Universitas Kristen Palangka Raya sekaligus pengamat ekonomi dan perkebunan tersebut, kenaikan harga CPO pada dasarnya dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai salah satu negara produsen sawit terbesar.
Namun, kondisi tersebut tetap perlu diantisipasi. Sebab, meningkatnya kebutuhan CPO di dalam negeri akan membuat Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan biodiesel, pangan dan ekspor.
"Semakin besar porsi penggunaan minyak sawit untuk kebutuhan biodiesel, semakin besar pula potensi berkurangnya pasokan CPO untuk kebutuhan pangan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produksi," ujarnya.
Rawing menilai tantangan tersebut tidak cukup dijawab dengan mengandalkan perluasan perkebunan. Peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada dinilai menjadi pilihan penting agar produksi dapat bertambah tanpa menimbulkan tekanan baru terhadap lingkungan.
Ia mengatakan program B50 tetap memiliki manfaat strategis karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil yang bersifat tidak terbarukan.
Karena itu, menurut mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, keberhasilan B50 sangat bergantung pada kemampuan Indonesia meningkatkan produktivitas sawit secara berkelanjutan.
Dengan produksi yang meningkat, kebutuhan CPO untuk biodiesel dapat dipenuhi sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri pangan dan mempertahankan posisi Indonesia di pasar sawit global. (TESTI PRISCILLA/J)









