BORNEONEWS, Palangka Raya - Perjalanan panjang harus dilalui petugas Sensus Ekonomi 2026 atau SE2026 untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil Kabupaten Pulang Pisau. Salah satunya dialami Devi Nadiah saat melakukan pendataan di RT 8 Desa Jabiren.
Untuk mencapai lokasi tersebut, Devi harus menyeberangi sungai menggunakan Alkon dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Perjalanan itu menjadi pengalaman tersendiri bagi dirinya karena kondisi wilayah yang cukup terpencil.
“Kalau ke sana harus menyeberang pakai Alkon, kira-kira 30 menit. Memang cukup jauh dan aksesnya juga tidak mudah,” cerita Devi kepada Borneonews saat dihubungi pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Setibanya di RT 8, Devi hanya menemukan sekitar delapan orang yang masih tinggal di wilayah tersebut. Sebagian besar warga lainnya ternyata sudah berpindah ke wilayah RT lain, seperti RT 1, RT 2, RT 6 dan RT 7.
Kondisi tersebut bahkan terlihat dari fasilitas pendidikan yang ada di wilayah itu. Sekolah dasar yang sebelumnya melayani anak-anak di RT 8 kini sudah tidak beroperasi karena tidak lagi memiliki murid.
“Di sana orangnya sudah banyak yang pindah. Bahkan SD yang ada di RT 8 itu juga tutup karena tidak ada muridnya,” ujarnya.
Dalam perjalanan pendataan itu, Devi juga bertemu dengan dua orang lanjut usia yang masih bertahan tinggal di kawasan tersebut. Pertemuan dengan para lansia itu membuatnya berpikir tentang bagaimana mereka mendapatkan pertolongan apabila mengalami sakit atau kondisi darurat.
Sebab, di kawasan tersebut tidak terdapat puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), maupun puskesmas desa (Puskesdes). Jika membutuhkan pelayanan kesehatan, warga harus terlebih dahulu menyeberang menuju wilayah desa.
“Jadi kepikiran, ini kalau mereka sakit malam bagaimana. Di sana tidak ada Puskesmas, Pustu maupun Puskesdes. Kalau ada apa-apa harus menyeberang, sementara untuk menyeberang juga butuh waktu,” tuturnya.
Salah satu lansia yang ditemui Devi bahkan masih bekerja sebagai penyadap karet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk menjual hasil kebunnya, pria lanjut usia tersebut harus menyeberang menuju desa.
Yang membuat Devi semakin terenyuh, lansia tersebut tidak memiliki perahu bermesin. Ia hanya mengandalkan perahu dayung untuk menyeberangi sungai, meski jarak yang harus ditempuh cukup jauh.
“Bapaknya itu usahanya hanya menyadap karet. Kalau mau menjual hasil kebunnya harus menyeberang ke desa. Dia hanya menggunakan perahu dayung karena tidak ada mesin Alkon. Terpaksa mendayung sendiri,” katanya.
Bagi Devi, pengalaman tersebut menjadi salah satu kisah paling membekas selama menjalankan tugas SE2026. Di balik kegiatan pendataan yang identik dengan angka dan statistik, ia justru menemukan secara langsung potret kehidupan masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Ia berharap para lansia dan warga yang masih tinggal di RT 8 Desa Jabiren senantiasa diberikan kesehatan. Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas membuat kehidupan warga di kawasan tersebut memiliki tantangan tersendiri.
“Sedih sebenarnya melihat lansia-lansia yang ada di sana. Semoga mereka selalu sehat, karena kalau sampai sakit kasihan, aksesnya juga sulit,” ujar Devi.
Kisah Devi menjadi gambaran bahwa pelaksanaan SE2026 bukan sekadar proses mengumpulkan data ekonomi. Di pelosok Kalimantan Tengah, petugas juga menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat menjalani kehidupan dan mempertahankan mata pencaharian di tengah keterbatasan akses serta fasilitas. (TESTI PRISCILLA/J)









