PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Peningkatan kebutuhan minyak sawit mentah atau CPO sebagai bahan baku biodiesel B50 tidak boleh menjadi alasan untuk membuka perkebunan kelapa sawit secara sembarangan. Pengembangan sawit harus tetap memperhatikan aspek lingkungan dan dilakukan sesuai kaidah perkebunan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang. Menurutnya, tantangan utama penerapan B50 bukan semata-mata terletak pada ketersediaan tanaman sawit, tetapi bagaimana meningkatkan produksi tanpa menimbulkan persoalan lingkungan.

"Pembukaan kebun harus hati-hati dan sesuai kaidah lingkungan. Daerah lereng jangan dibuka karena bisa memicu kerusakan lingkungan seperti banjir. Penggunaan pupuk juga harus dijaga agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan," ujar Rawing kepada Borneonews pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Dosen Ilmu Pertanian Universitas Kristen Palangka Raya sekaligus mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah itu mengatakan kebutuhan CPO untuk biodiesel akan meningkat seiring penerapan B50. Karena itu, peningkatan produksi memang diperlukan, tetapi harus lebih mengutamakan optimalisasi perkebunan yang telah ada.

Menurut Rawing, intensifikasi dan peningkatan produktivitas menjadi langkah yang lebih penting dibandingkan membuka lahan baru secara masif. Produktivitas yang lebih tinggi memungkinkan produksi CPO meningkat tanpa harus memberikan tekanan besar terhadap sumber daya alam.

"Kalau produktivitas bisa terus ditingkatkan, maka kebutuhan biodiesel bisa terpenuhi tanpa mengorbankan kebutuhan lain," katanya.

Ia menilai penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit tetap memberikan manfaat bagi Indonesia karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Namun, manfaat tersebut harus diiringi dengan tata kelola perkebunan yang memperhatikan keberlanjutan.

Rawing juga mengingatkan agar penggunaan pupuk dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan. Pengelolaan lahan, pemilihan lokasi perkebunan hingga praktik budidaya harus menjadi bagian dari strategi peningkatan produksi sawit.

"Pengembangan perkebunan harus tetap memperhatikan lingkungan. Jangan sampai kebutuhan energi meningkat, tetapi kemudian menimbulkan persoalan lingkungan yang justru menjadi beban di kemudian hari," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/J)