SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepungan asap tebal kembali membuat relawan yang membantu padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tumbang saat berjibaku memadamkan api yang mendekati permukiman warga di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kali ini, Muhammad Dimas, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Dalam, harus ditarik dari lokasi dan dilarikan ke IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas saat ikut memadamkan karhutla di Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

"Artinya mungkin karena kelelahan satu. Yang kedua, memang di tempat kejadian itu api membesar, asap pekat. Akibat itu lalu sesak napas," kata Ketua Relawan Ketapi 3, Muhammad Mahdani, Jumat, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi asap yang sangat tebal membuat petugas kesulitan bernapas meskipun telah menggunakan masker. "Meskipun kadang kita pakai masker tetap saja membuat sesak," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Dani itu menuturkan, sebelum Dimas tumbang, tim relawan telah melakukan pemadaman dari sejumlah lokasi untuk menangani karhutla yang mengancam permukiman.

Hari itu, relawan melakukan pemadaman di Jalan Pelita, Perumahan Panca Setia dan Perumahan Grand Pelita. Di Grand Pelita, terdapat tiga titik kebakaran yang ditangani relawan.

Pemadaman dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah kelompok relawan, yakni Redkar Ketapi 3, Redkar Masjid Jami Assalam dan MPA Teluk Dalam, bersama pihak kelurahan. 

Dani menjelaskan, Dimas sendiri bukan relawan baru. Ia telah sekitar tiga tahun bergabung dalam kegiatan relawan untuk penanganan kebakaran.

"Memang karena faktor kelelahan dan asap tebal. Kami pakai masker, tapi memang asap membuat salah satu teman kami tumbang," katanya.

Begitu melihat kondisi Dimas menurun, rekan-rekannya langsung menghentikan aktivitasnya dan menariknya menjauh dari lokasi.

Dimas kemudian dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan medis. Saat ini kondisinya dilaporkan sudah stabil.

Kasus Dimas menambah daftar relawan yang mengalami gangguan kesehatan saat menangani karhutla di Kotim.

Sebelumnya, Rizky Mubarrak, relawan Redkar Masjid Jami Assalam, juga sempat tumbang setelah ikut melakukan pemadaman di sejumlah lokasi. Kondisinya kini telah membaik.

"Jadi sudah ada dua relawan yang tumbang. Kemarin Rabu, Rizky Mubarrak relawan dari Redkar Masjid Jami Assalam, saat ini kondisinya membaik," ungkap Mahdani.

Meski demikian, Mahdani menyebut kondisi relawan lainnya masih baik. Mereka terus bergerak membantu pemadaman meski dengan keterbatasan peralatan dan operasional.

Para relawan selama ini bergerak secara swadaya. Kebutuhan operasional mengandalkan bantuan dan dukungan dari sesama relawan maupun pihak lain.

"Relawan ini swadaya, operasional hasil teman-teman bantu," katanya.

Di lapangan, ketersediaan air menjadi persoalan serius yang dihadapi relawan di lapangan. Sejumlah parit di sekitar lokasi kebakaran telah mengering. Sumur warga juga banyak yang tidak lagi memiliki cukup air untuk mendukung pemadaman.

"Untuk di lapangan saat ini karena kesulitan dari titik airnya, karena parit-parit sudah kering. Di situ kadang kendala yang di lapangan," jelas Mahdani.

Suplai air sebenarnya sudah tersedia, termasuk melalui kendaraan tangki. Namun, perlu air lebih banyak karena luasan lahan yang terbakar cukup besar.

Kapasitas kendaraan tandon yang digunakan relawan juga terbatas, sekitar 1.100 liter. Air dalam jumlah tersebut cepat habis ketika digunakan untuk memadamkan kebakaran di lahan yang luas.

"Suplai air memang ada, tapi kadang dengan lahan yang luas kita tangani itu terbagi. Yang pakai mobil-mobil tandon itu kan muatan air cuma 1.100 liter, sedangkan lahan luas," ujarnya.

Kondisi semakin sulit karena lokasi kebakaran berada di kawasan gambut, termasuk sekitar Perumahan Pelita. Ketika air di tangki habis, relawan harus meninggalkan lokasi untuk mencari dan mengisi kembali air.

Relawan Ketapi 3 juga memiliki tangki air dan sejumlah mesin untuk mendukung pemadaman. Namun, keterbatasan sumber air tetap menjadi kendala utama.

Mahdani menilai penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Banyaknya titik api membuat kemampuan personel dan peralatan pemerintah juga memiliki keterbatasan.

"Artinya kalau berpangku tangan pemerintah, ini bukan hanya sekadar pemerintah, kita harus bersama untuk menangani ini. Kalau pemerintah saja berat," bebernya.

Menurutnya, BPBD, Damkar dan unsur lainnya telah bekerja di banyak lokasi dengan jumlah personel yang terbatas. Karena itu, keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah munculnya titik api baru.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.

"Makanya kadang kesadaran dari masyarakat yang membuka lahan, membakar sampah, itu harus dihentikan," tegasnya.

Ia berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan, terutama ketika kondisi kemarau membuat kebakaran semakin mudah meluas dan sulit dikendalikan.

"Kepada masyarakat, kita tolong jaga lingkungan, jangan membakar sampah, karena untuk saat ini sudah banyak titik-titik api yang sulit dikendalikan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)